20 Oktober 2009

Saya Mau Kurus


Ia memandang bayangan dirinya di cermin besar di kamarnya. Mukanya murung. Bibirnya merengut. Tangannya berkacak pinggang. Pertanda ia tak menyukai apa yang dilihatnya.
“Ah!!! Sebel!! Kenapa sih masih segini-segini aja??”
Suara nyaring terlontar dari bibirnya yang sedari tadi mecucu bak ikan cucut. Diperhatikannya lagi sosoknya yang terpampang jelas di hadapannya. Pipi itu. Lengan itu. Pinggang itu. Perut itu. Pinggul itu. Pantat itu. Paha itu. Betis itu. Kesatuan itu yang membuat matanya bergerak-gerak tak nyaman. Ia bukan lagi tak menyukai apa yang sedang dilihatnya. Ia membencinya.
“Bohongan nih iklannya! Apaan yang seminggu bisa turun 4 kilo???” Serunya kesal sambil menendang kacanya. Setengah mati ia ingin kurus, sampai-sampai merogoh kocek yang tak sedikit, tapi hanya hasil hampa yang didapatnya. Ia menghempaskan diri ke kasur empuk di sebelahnya. Menatap langit-langit dengan hati kecewa. Kenapa, kenapa, dan kenapa, kok rasanya susah sekali untuk jadi kurus? Sudah berbagai macam metode ia jalankan. Sudah berbagai macam obat ia jajal. Sudah berbagai fitness center ia masuki. Namun tak satupun menampakkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.
Targetnya tidak muluk-muluk kok. Cukup turun 10 kilo lagi. Benar, deh, ia akan puas setelah mencapai itu. Ia tak butuh payudara sebesar Pamela Anderson. Tak butuh kaki sejenjang Gisele Bundchen. Tak butuh bokong sekencang Jennifer Lopez ataupun Beyonce. Tak butuh lengan sekekar Madonna. Ia hanya mau kurus! Tapi nyatanya, menjadi kurus malah lebih susah daripada mempunyai payudara sebesar Pamela Anderson, kaki sejenjang Gisele Bundchen, bokong sekencang J-Lo ataupun Beyonce, dan lengan sekekar Madonna.
Pipi itu. Lengan itu. Pinggang itu. Perut itu. Pinggul itu. Pantat itu. Paha itu. Betis itu. Ia membenci semuanya.
***
Hari demi hari berlalu. Tahu-tahu saja ia sudah berada di penghujung minggu. Di suatu hari yang dinamakan “Sabtu”. Hari di akhir pekan yang merupakan aniaya baginya, seperti orang yang dirajam batu. Karena di setiap hari “Sabtu”, ia harus bertemu dengan teman-temannya, saling bertukar kabar dan gosip, dan tentu saja, pembahasan tentang berat badannya.
“Mau diturunin sampai seberapa lagi, Ned? Elo udah oke, tau!”
“Iya, Ned, segini udah cukup kali, nggak usah aneh-aneh deh!”
Huh! Apanya yang sudah oke? Apanya yang segini sudah cukup? Jelas teman-temannya tak mendukungnya untuk tampil lebih baik lagi. Jelas teman-temannya tak mau disaingi! Kalau ia turun 10 kilo lagi, ia akan jadi jauh lebih cantik, jauh lebih keren. Teman-temannya tahu itu. Mereka sepenuhnya sadar, dan sepenuhnya mencoba mempengaruhinya untuk menyerah. Teman-teman macam apa itu?!
Tapi, lagi-lagi ia hanya bisa tersenyum lemah. Sudah bosan ia untuk membela dirinya dan memberikan alasan setiap kali teman-temannya angkat bicara.
“Yah, sedikit lagi kan nggak ada salahnya.”
Begitu jawabnya setiap kali. Dan begitu pula ia menuai protes lebih lagi dari mereka.
Sebenarnya ia juga tak mau beda sendiri seperti ini. Ia mau menjadi sama seperti yang lainnya. Sama seperti Metha yang punya senyum manis. Sama seperti Olline yang punya badan langsing bak Jessica Alba. Sama seperti Niken yang tinggi semampai dan punya rambut hitam panjang bak iklan Sunsilk. Sama seperti Kenar yang berkulit putih mulus. Sedangkan dirinya? Sudah hitam, pendek, gendut, jerawatan, rambut seperti sapu ijuk pula!
Ia benar-benar tak habis pikir, kenapa ia bisa seperti ini. Padahal ia sudah rajin merawat diri. Rajin luluran, rajin creambath, rajin fitness, rajin cuci muka, dan rajin-rajin lainnya. Tapi hasilnya tetap saja tak sama seperti Metha yang punya senyum manis. Tak sama seperti Olline yang punya badan langsing. Tak sama seperti Niken yang punya rambut hitam panjang bak iklan Sunsilk. Tak sama seperti Kenar yang berkulit putih mulus. Tak sama dengan semuanya yang ia inginkan. Ah! Ia benar-benar frustrasi.
Ia tahu, semuanya bersumber dari badannya. Itulah yang membuatnya gagal dalam segalanya. Gagal dalam membangun hubungan. Gagal dalam pedekate. Gagal dalam wawancara kerja. Gagal semua! Coba kalau ia jauh lebih kurus, ia akan jadi lebih menarik. Dan tentu saja, ia akan jauh lebih berhasil dari keadaan dirinya yang sekarang. Berhasil, tahu nggak?! Bukan jadi pecundang!
Ia tak tahan lagi. Ia tak bisa menunda-nunda lagi. IA HARUS KURUS!!!
***
Kepalanya berputar. Mulutnya kering. Tenggorokannya serasa ditusuki seribu jarum. Tangannya berkeringat dan gemetar tak beraturan. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menghalau dingin yang menyelimuti tubuhnya yang sedang terbuntal selimut. Tapi usahanya sia-sia. Hawa dingin itu malah semakin merasuki pori-pori kulitnya. Membuat tubuh mungilnya semakin meringkuk dalam-dalam di hamparan empuk kasur di atas ranjang miliknya. Tenaganya seperti habis terkuras. Bagaimana tidak? Sudah dua hari ini ia menolak untuk makan. Hanya air putih yang masih setia ditenggaknya.
Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
“Neng Nadya, buka pintunya, neng! Teman-teman neng ada di sini.” Suara si bibi menyusup di celah-celah pintu dan menggapai telinganya. Membuatnya melirik sekilas ke pintu yang ada di depannya. Ia melengos, kembali pada dekapan hangat selimut dan bantal-bantal di sekelilingnya.
DOK! DOK! DOK!
Tiba-tiba saja pintu digedor secara brutal. Iapun terlonjak kaget. Dengan tatapan linglung, ia menatap pintu kamarnya lekat-lekat.
“NEDI!! Jangan gila, deh! Buka pintunya!” Olline berteriak dari balik pintu itu.
“Nedi! Jangan gitu dong ke diri elo sendiri! Kalo bonyok lo tau, mereka bisa sedih!”
Mereka sedih?
Sejenak ia termenung, menatap kosong ubin warna peach di depannya. Benar juga. Apa kata ayahnya jika ia menemukan anak semata wayangnya mati kelaparan di rumah sendiri? Apa kata ibunya jika ia melihat keadaan putri tersayangnya yang seperti ini? Mereka sudah pasti tak akan suka. Mereka sudah pasti akan bersedih karena investasi masa depan keluarganya ini merusak diri sendiri. Tapi, tapi, mereka tak akan tahu, kok! Kan mereka selalu berada di luar negeri sejak ia masih kecil. Saat mereka kembali, ia pasti sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Dirinya yang mereka kenal. Ia tak ingin membuat kedua orangtuanya bersedih. Ia menyayangi mereka berdua, walaupun hanya sebatas ucapan di mulut. Namun saat ini, keinginannya untuk jadi kurus dan menarik lebih besar dari keinginannya untuk menyenangkan hati kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya yang selalu mengatur hidupnya bak robot berjalan yang sudah diprogram.
Ia beranjak dari ranjangnya, tapi bukan untuk membuka pintu yang sedari tadi menahan getaran kekuatiran orang-orang yang ada di baliknya. Ia menuju ke sudut kamar. Menuju ke tempat dimana sebuah cermin besar berada. Sudah seminggu ini ia menghindar dari benda itu. Benda yang merefleksikan bukan hanya keadaan fisiknya, tapi juga keadaan jiwanya. Entah kenapa, saat ini ia merasa ia harus melihat dirinya sendiri di benda itu. Ia harus melihat hasil dari perjuangannya selama ini.
“NEDI!! Plis dong, buka! Kalo begini terus, gue telpon psikiater!” Ancam temannya dengan nada setengah putus asa.
Psikiater? Ia tak butuh itu. Yang ia butuhkan hanyalah cerminan dirinya yang menjadi kurus. Ia yakin, ia akan kembali normal sesudahnya. Kembali normal dalam hidupnya yang serba tak normal.
Teman-temannya seringkali berkata ia sudah tak normal dalam melihat badannya. Tak jarang mereka menyarankannya untuk berkonsultasi ke dokter maupun psikiater. Mereka bilang, mereka miris melihat keadaan dirinya yang semakin hari semakin memburuk. Kata mereka, tulang-tulangnya sudah mencuat kemana-mana. Kata mereka, ia sudah tampak tak segar lagi. Kata mereka, mereka kuatir. Tapi, kuatir apanya? Mereka tak tahu apa yang ia rasakan, kok. Mereka tahu apa?!
“Metha, siapin mobil! Bi, tolong panggil Pak Karso sama si Bambang, siap-siap bantu ngedobrak! Kalau dia nggak mau keluar, kita paksa dia keluar!”
Iapun menatap ke arah pintu untuk terakhir kalinya. Kemudian memalingkan wajahnya ke arah cermin yang ada di hadapannya. Ia harus bertindak cepat, sebelum ia dibawa keluar dari ruangan ini. Kepalanya berdentum keras karena suara dobrakan pintu, membuatnya tak bisa melihat dengan jelas sosoknya yang terpantul.
Samar-samar indra penglihatannya kembali bekerja dengan normal. Ia tercekat.
Apa yang dilihatnya sama sekali jauh dari bayangannya selama ini. Ia melihat sosoknya yang gendut, dengan lemak bergelambir, dan kulit berkerut. Padahal pada kenyataannya, sosoknya itu hanyalah tulang dibalut kulit pucat yang berkerut karena kurang gizi. Jelas saja ia kurang gizi, setiap sesudah makan ia selalu saja minum obat pencahar dan diuretika.
Sosoknya benar-benar mengenaskan. Tapi apa yang dilihatnya malah jauh berbeda dari kenyataan yang ada. Ia tetap saja ngotot ingin menjadi lebih kurus lagi. Ia tetap saja ngotot kalau ini semua belumlah cukup.
Iapun terduduk di lantai. Bersimpuh dalam kesedihan, sebelum dobrakan terakhir berhasil menjebol pintu kamarnya. Sebelum tangan-tangan yang kuat merengkuhnya dan membopongnya ke dalam mobil. Sambil memeluk dirinya sendiri, ia menangis dan berkata, “Saya mau kurus!!!”

San Francisco, 28 Januari 2008. 2.10 subuh



Oleh : mimoeT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamu bisa memberikan masukan, kritik dan saran untuk entry cerpen ini. Kata-kata kalian sangat membantu. Terima Kasih...