Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

21 Februari 2011

Karena Diriku Seorang Emak 2

Semakin bertambah usiaku dengan hari-hari yang berlalu penuh penyesalan dan air mata. Udara dihatiku menjadi badai yang menyeruak mambuat aku terus mearasakan kesedihan diri atas anak-anakku. Terakhir ku dengan semua anakku sudah menikah dan Rukha baru melangsungkannya sebulan yang lalu. Sesak rasanya hatiku sebagai emak mereka. Tak satupun dari pernikahan mereka ku saksikan, bukan karena aku tak mau, tapi karena aku sangat malu dan sudah tak punya muka dihadapan maereka. Aku hanya bisa berdoa dari sini, agar mereka selalu diberi kebahagian dan agar aku diampuni, ampun untuk dosa yang tak terbendung karena telah mendurhakai putra-putriku.

Aku sudah tak muda lagi, sekarang umurku hampir 70 tahun. Badan ini rasanya sudah aus dimakan zaman, lemah dan sakit-sakitan. Begitu halnya dengan mas Seno, tapi dia lebih kuat dari pada aku. Di usianya yang lebih dari 70 tahun dia masih sehat dan jarang sakit, dia pula yang selalu mengurusku yang sudah tua retah dan sakit-sakitan. Sakitku bukan dibadan saja, rasa sesal di hati ini yang lebih menyakitkan hingga tubuh juga ikut ambruk tak berdaya. Yang kuingat selalu adalah putra-putriku, aku ingin sekali bertemu mereka sebelum aku mati. Aku tidak ingin mati menjadi bangkai penuh dosa... aku ingin sekali memeluk mereka, meskipun maaf baru kudapatkan dengan mencium kaki mereka. Aku rela demi ampunan anak-anak terhadap emaknya yang takberdaya ini.

Hati terus bersambung darah tak henti beralir, Yudi anak sulungku datang ke kalimantan bersama istrinya. Aku sangat pangling sekali dengannya. Anakku yang kutinggal saat masih remaja kini telah menjadi seorang bapak. Dia melihatku tak berdaya dipembaringan, lemah, sakit, dan tua sekali. Aku hanya dapat menangis bila memandang wajahnya, aku teringat berpuluh-puluh tahun silam, aku telah menelantarkannya  dan tidak memberikan dia kasih sayang. Dia datang untuk menjemputku, membawa aku kembali pulang ke jawa. Yudi dan istrinya merawatku selama seminggu di rumahku, hingga aku mengiyakan untuk ikut dia kembali ke jawa, aku rindu Huda, Rohmah, dan Rukha. Memang aku sudah lupa rupa mereka tapi aku masih ingat telah melahirkan mereka dan aku adalah emaknya meski hanya emak tak tahu diri.

Mas Seno tidak ikut kembali ke jawa karena dia masih mempunyai kewajiban di desa imigrasi itu sebagai abdi kelurahan di perkebunan. Akhirnya hanya aku yang ikut bersama Yudi dan Sani, menantuku. Aku sudah ingin bertemu anak-anakku yang lainnya hanya untuk meminta maaf. Memohon ikhlasnya hati mereka atas segala salahku di masa laluku, masa dimana aku seharusnya memberi kebahagiaan pada putra-putriku bukan mengukir luka yang meradang seperti saat ini.
***

Sampai di rumah Yudi aku aku disambut anak-anak Yudi yang sangat baik sekali kepadaku. Yudi bukanlah orang kaya, ia hidup sederhana dengan keluarganya, tapi ia sangat menyangi anak-anaknya, hingga rumah kecil dan bersahaja ini  menjadi selalu hangat dengan kebahagiaan. Lain dengan mendiang bapaknya dulu yang kaya raya karena keuletannya menjaga warisan keluarga, sosok putra sulungku ini sangatlah bersahaja. Ia hidup dengan keringatnya sendiri, jerih payahnya selama ini untuk kebahagiaan keluarganya. Melihat kenyataan ini hatiku ngilu sekali, mengingat dulu mas Parman adalah tuan tanah yang dihormati, sedang anakku tidak mendapatkan apapun dari dirinya karena aku, karena khilaf yang membutakan mataku untuk menghabiskan seluruh kekayaan mendiang suami pertamaku demi menikmati kesenangan dunia yang semu.

Sembilu berdarah merajam qalbu, menusuk dalam ke uluh hati. Sakit, perih dan panas. Seakan bara api keabadian tak kunjung padam, kekal dibawa mati. Anak-anakku juga berhati, merasa disakuti dan dikhianati oleh ibundanya sendiri. Setelah sekian lama ternyata luka itu tak lekas mengering, jangankan terangin angin... perih tersiram garam rasanya dengan kedatanganku lagi dihadapan mereka.

Sehari setelah kedatanganku di rumah Yudi, ketiga anakku lainnya datang menengokku. Huda dan Rohmah datang di sore harinya dengan istri dan suami mereka, sedangkan Rukha baru tiba di rumah Yudi selepas Maghrib. Putra-putriku bukan anak kecil lagi, mereka telah menjadi manusia dewasa yang tentunya mengetahui tentang konsekuensi kehidupan ini.

Lama mereka menatapku tanpa kata setelah mencium tanganku dengan airmata, airmata yang aku yakin bukan hanya airmata kebahagiaan namun merupakan luapan emosi kepadaku selama ini antara senang, kecewa, sedih dan trauma akan masa-masa yang denganku berupa ukiran pahit dariku.

Bayang-bayang masa lalu kembali menyapaku, menuntut keadilan.... meminta pertaanggung jawaban dan menyeretku dalam kedukaan yang melukai hatiku dengan belati beracun yang kupegang sendiri. Sesak dada ini, bahkan paru-parupun seakan tak mau menerima udara lagi untukku. Ku iklhaskan jiwa dan raga atau apa pun yang tersisa pada tubuh yang tua ini sebagai bayaran maaf dari darah dagingku...

”Mak, malang dirundung sengsara... hati ini beku jauh dari kasih sayangmu......., kami memang anakmu Mak, tapi pernahkah kau menjadi ibu kami selama ini..... siapa yang membelai kami disaat menangis, siapa yang merawat kami saat sakit.... bukan emakkan...!!!!! bulek Tri dan Bulek Sari yang memeluk kami dalam suka duka kami, bahkan saat kami kelaparan dan bapak kesakitan.... emak kah yang menyuapkan kasih sayang pada kami??????????????!!!!!!! Tidak Mak!!! Emak tidak pernah mengenal kami, karena kami hanyalah tumbal untuk mengganti kekayaan bapak yang emak Tuhankan”

”Maafkan emak Rohmah..... emak salah”

”tidak mak!!! Semua ini tak berarti” luka di hati Rohmah membara menyakitkan

”sudah mbakyu.... beliau emak kita..” pelukan Rukha menghambur ke mbakyunya yang tak kuasa menahan gejolak di hatinya....

”maaf kan emak nak....” hanya kata itu yang mampu ku ucapkan..... aku sudah takpantas mengucapkan apapun didepan anak-anak ku, bibir rasanya kelu.... suara pun hilang, berat memohon ampun diri.

Kamar ini saksi kehidupanku, saksi sebuah sidang dunia atas nestapa dan salah kepada para penghuni rahim yang menghujatku, Tuhan adalah seagungnya hakim... sedangkan aku hanyalah terdakwa yang tak berdaya... tanpa kebenaran... tanpa pembelaan.... yang kuharapkan hanyalah pelukan ikhlas dari hati para penghujatku sehingga Hakim dapat kembali tersenyum kepadaku dan rela menaungiku kelak...

Huda tetap diam dalam kekecewaan padaku... tak sepatah katapun ia ucapkan, hanyalah tatapan pilu yang melelehkan perasaanku.....

”Rohmah! Sudahlah...”  Yudi memeluk adik-adiknya, kemudian dia membelaiku dan mencium keningku.... kurasakan hangatnya hati  anak sulungku ini, hati yang penuh kasih sayang kepadaku.

”Maaf kan emak Nak..., emak salah, emak durhaka,.. emak berdosa.... balaslah emak nak..... pukul nak... pukul saja emak ini... emak rela mati asalkan kalian semua memaafkan emak” aku tak tahu harus mengatakan apalagi....

”Sampun Mak..... Cukup, kami anak-anakmu... kami berhutang nyawa padamu mak.... tidaklah pantas kami mendendam padamu Mak”  Yudi mencium tanganku dengan airmata yang semakin menyesakkan saja.

”Rohmah, Rukha, Huda... adikku...., cukup!!! Tidak pantas kalian terus memojokkan Emak.... hilangkan dendam kalian... tahanlah emosi kalian.... coba lihat diri kita sendiri..!!!! memangnya apa yang telah berikan kepada Emak... nggak ada kan... sedangkan hidup kita bila bisa digadaikan takkan sanggup mengganti peluh yang menetes dari raga Emak saat kelahiran kita...!!!!”

kata-kata Yudi dingin sekali menyentuh hatiku..... bara ini serasa padam dari api abadi penyesalan hidupku selama ini. Lega rasanya.... tangan-tangan anakku kembali menghangatkan rongga keputusasahan yang membeku selama ini. Yudi, Huda, Rohmah, Rukha.. tak kuasa menahan tangis mereka, memelukku, menciumku..... hangat rasannya..... aku bahagia sekali.... aku baru merasakan terlahir didunia ini sebagai seorang ibu, meskipun terlambat... aku sangat-sangat bahagia... kebahagian yang sudah sangat lama kulupakan dan kuragukan keberadaannya, namun sekarang kudapat merasakannya..... terima kasih Tuhan....

Diriku tak membeku lagi.. rasa ku membara.... hatiku ringan... aku baru terlahir kembali, kurasakan dunia ini terang benderang..... semua indah terlihat... oh Tuhan, sungguh nikmat kurasakan.....

lambat laun suara anakku terasa jauh, sentuhan hangat mereka sudah tak dapat kurasakan.... tapi hangatnya hati mereka yang penuh kasih sayang kekal di hatiku....  kulihat mas Parman, suamiku tampak sangat tampan sekali, dia tersenyum dan aku ingin berlari memeluknya............

”EMAK...!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
indah dan bahagia yang kurasakan.....
”TIDAK!!!!, EMAK!!!!!....................”

S E L E S A I

Oleh : Zulfikar Alya

14 Februari 2011

Karena Diriku Seorang Emak 1

KARENA DIRIKU SEORANG EMAK
Part 1


Layaknya hutan yang tak bertuan, sepi sendiri di tengah hingar bingar meganhnya dunia. Hanya lemah raga yang menemani dengan penyesalan tiada henti, aduan airmata yang semakin deras saja setiap hari, penuh duka, amarah, kecewa dan sesal, tidak kepada siapapun di sampingku, tapi amarah yang menyesakkakn hati atas diri yang rentah dan hina, berkubang dosa, salah, semu hanyalah bayangan dunia yang membutakan pandangan di masa lalu. Masa lalu yang telah menjadi luka bagi hati-hati yang tak berdosa, bagi raga-raga yang masih lugu, meninggalkan dendam, benci dan kekecewaan

Kamar ini, sepercik air oase bagi padang prahara di hatiku. Memang bukanlah ruangan yang indah dengan ornamen mewah, hanya sebuah bilik kecil. Bilik yang disekat dengan dinding papan kayu seadanya dengan jendela kecil dekat langit-langit. Tapi ini semua adalah isyarat, tanda sayang dan cinta dari putra sulung ku. Anakku yang telah lama ku tinggalkan dan ku abaikan tanpa cinta, kasih serta belaian sayangku. Aku mendurhaki mereka. Aku menyakiti mereka, aku.. aku.. hanya salah padaku atas mereka selama ini.

Aku hanyalah seorang emak yang berkhianat pada kodrat sebagai wanita. Berpuluh puluh tahun yang lalu aku adalah wanita tercantik di desaku, semua mata akan tunduk syahdu memandang eloknya parasku, lelaki manapun pasti tergila-gila dengan rupaku, layaknya bidadari sanjungan dari mereka. Hingga seorang pemuda kaya raya berhasil mempersuntingku sebagai belahan jiwanya. Mas Parman, Suamiku adalah juragan tanah yang makmur, sawahnya terhampar luas di desa itu, hasil panennya terbaik diantara semua petani saat itu, tak heran kalau hidupku serba makmur dan berkucupan. Tiada hal yang mustahil kumiliki, seakan jadi perempuan paling beruntung didunia. Meski hidup di desa, aku bahagia, bersuka atas semua hal yang dipenuhi suamiku dan atas segala penghormatan penduduk desa kepadaku sebagai wanita terhormat dan kaya raya

Hidup dengan kesempurnaan adalah hari-hariku, harta yang berlimpah, kehormatan yang tinggi dan suami yang selalu mencintaiku. Dia sangat memujaku, atas kecantikannku yang luar biasa menurutnya, lebih lebih aku telah bisa menghadiahinya anak-anak dambaannya. 5 tahun menikah kami sudah memilki 3 anak, 2 laki-laki dan seorang perempuan, Yudi, Huda, dan Rohmah. Suamiku sangat menyangi mereka dan selalu mencintaiku sehingga ia sama sekli tidak menginginkanku melelahkan diri untuk mengurus anak-anak kami. Batur- baturpun dibayar oleh mas Parman untuk mengurus gundik-gundik yang kulahirkan, sedangkan aku hanyalah ia minta untuk menikmati apa yang berikan kepadaku dan mempercantik diri untukku.

Hidup dalam kemakmuran dan berkecukupan membuatku menjadi sosok yang lupa segalanya. Duaniapun seakan sudah ada di genggamannku, aku tidak perduli dengan apapun tetek bengek di sekitarku, memperindah diri sendiri adalah hal yang terpenting bagiku. Mas parman memboyongku dari orangtuaku sejak kami menikah, sehingga aku sudah jarang sekali bertemu dengan ke dua saudaraku, Sari dan Tri. Mungkin karena harta yang membutakan hatiku, aku sudah berubah menjadi perempuan sombong dan acuh. Pernah suatu hari Sari datang ke rumahku untuk meminta bantuan, ia mengatakan padaku kalau anaknya sedang sakit keras dan di butuh biaya besar untuk pengobatan anakknya. Entah apa yang kupikirkan waktu itu sehingga aku menolak mentah-mentah kedatangannya yang seperti pengemis, bajunya kotor, lusuh dengan rupanya sudah persis gelandangan, memang waktu itu suaminya hanyalah seorang buruh angkut di pasar, sehari-hari keluarga mereka hidup serba kekurangan, apalagi ditambah dengan anaknya yang sednag sakit parah, semakin terpuruk saja keadaan adikku ini. Tapi itu semua sama sekali tidak membuat hatiku tersentuh untuk membantunya. Aku malu punya saudara seperti dia.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya Sari saat itu, tidak dengan membantunya, aku malah mengusirnya. Aku marah padanya, salah sendiri kenapa dia mau menikah dengan orang miskin seperti suaminya itu yang hanya bisa memberikannya penderitaan sekarang saat dia kesulitan aku juga yang direpoti. Aku merasa Sari terlalu bodoh dan aku tak peduli lagi dengan urusannya sekalipun ia meronta-ronta memohon kepada ku tidak ada rasa kasihan di hatiku. Esoknya Sari datang lagi dengan diantar Tri, dan aku tetap beku. Kuusir mereka dan kuminta orang suruhan suamiku untuk menyeret mereka keluar rumahku.

”bagai batu yang tak berhati dirimu mbak, aku tidak akan mengemis padamu lagi. Aku kira sampeyan masih dulurku!!!, sesambung darah dari rahim...., tapi kalau memang ati wis malih rupa, batupun tidak sekeras hatimu.... ” kata-kata itulah yang sampai sekarang benar-benar lekat di benakku sebagai sesal di kemudian hari.

Mas parman tidak pernah marah kepadaku, dia hanya bertutur kalem agar aku besikap baik kepada saudara-saudaraku, tapi aku tetap segala-galanya bagi mas parman sehingga dia tidak akan pernah menggugat buruknya perangaiku. Lebih-lebih setalah aku melahirkan Rukha, anak keempatku. Bertambahlah suka cita dan cinta suamiku kepadaku. Aku telah memberinnya dua anak lelaki dan dua anak perempuan yang didambanya selama ini. Betapa ia merasa sempurna memandangku sehingga kesalahan kesalahanku sudah tak tampak lagi baginya meski ada di pelupuk matanya, yakni tergantikanya kasih sayangku kepada buah hati kami dengan harta dan kekayaan yang kupuja dengan sepenuh jiwa raga.

Yudi, Huda, Rohmah, dan Rukha secara badaniah adalah anak-anakku, darah dagingku dan mas Parman, akan tetapi nyatanya, sehari-hari merekalah putra-putri batur-batur yang kubayar untuk mengasuh mereka. Mereka memanggilku emak, hanya suatu panggilan tentunnya, ada di bibir saja namun tak secuil hati mereka menyebutku benar-bener sebagai seorang emak. Salahku sendiri memang, aku sangat jarang memberi perhatian kepada mereka, hanya uang yang berlimpah kutitipkan pada batur-batur untuk memenuhi segala permintaan anak-anakku. Aku tak sadar kalo itu semua masih jauh dari cukup. Mereka tidaklah bahagia, hati mereka kering dan akhirnya menjdi keras tanpa sentuhan kasih sayangku sebagai emak yang telah melahirkan mereka.

Yudi dan Huda tumbuh menjadi anak yang menyusahkan sekali, berkali-kali mereka berulah disekolah, dihukum gurunya bahkan hingga dikeluarkan. Suamiku sangat marah, sedikit berbeda dengan diriku yang acuh, mas Parman masih memperhatikan anak-anak kami, ia mendidik mereka dengan keras, melatih mental mereka dengan tangannya sendiri, tak heran jika Yudi dan Huda lebih hormat kepada bapaknya. Rohmah dan Rukha sangat menurut pada orang tuanya, meski mereka anak perempuan perhatianku kepada mereka tidak lebih dari perhatianku kepada batur-batur, kasar dan keras. Mungkin tidak salah bagi mereka berempat kalau tidak ada sosok seorang ibu di hati mereka.

***

Sudah belasan tahun kami menikah, bahkan Yudi sudah akan lulus SMP. Hidupku terasa selalu indah dengan kekayaan suamiku, hingga pada suatu saat mas Parman mulai sakit dan semakin hari semakin parah saja sakitnya. Sejak kecil mas Parman biasa hidup soro dan ngonyo dan disinilah mulai terasa lelahnya setalah sekian lama bekerja keras. Yudi dan Huda harus mengganti pekerjaan baapaknya nguusi hasil sawah, tapi tetap saja suamiku ikut mengawasi sambil mendidik mereka karena ia berharap agar suatu saat anakknya bisa mandiri kelak.

Hari berganti, bulan berlalu cepat. Sudah 2 tahun sakit mas Parman tak kunjung sembuh, dadanya sesak dan sering nyeri, dua bualan ini ia hanya bisa tergolek lemah di kamar. Segala pekerjaannya terbengkalai tidak ada yang mengatur bahkan beberapa petak sawah kami harus dijual untuk membiayai pengobatan suamiku. Secara umum ia masih muda, baru 40 tahunan, tapi karena sakitnya yang takkunjung sembuhnya ia tampak sangat tua dan lemah sekali. Karena badannya yang sudah tidak kuat lagi untuk mengurusi kerjanya, keadaan perekonomian keluarga kami pun kacau balau, belum lagi untuk mengobatan mas Parman sendiri yang tidak ada habisnya.

Takdir betul milik Tuhan. Tak lama setelah kondisi suamiku sangat lemah dan sering tidak sadarkan diri, Mas Parman pun menghembuskan nafas terkhir. Meninggalkan kami semua, aku dan anak-anakku tanpa pesan sama sekali. Aku hanya bisa meratap, membayangkan hidupku selajutnya yang sangat menghantuiku. Siapa lagi yang akan menanggung hidupkku dan anak-anaku... entahlah, aku sangat terpuruk sekali waktu itu. Begitu pula dengan anak-anakku yang benar-benar harus kehilangan satu-satunya sosok orang tua mereka yakni, suamiku tercinta.

Kepergian mas Parman membuatku limbung deperti anak ayam kehilangan indukknya, keadaan keluargaku kacau balau. Sepeninggal suamiku aku yang mengurus semua pekerjaannya, selama ini aku tidak pernah ambil bagian dalam urusan ini, aku sama sekali tidak tau menahu bagaimana harus melakukannya. Tapi semua usahaku untuk mengurus peninggalan suamiku hancur, semua pekerja menghilang, aku tidak tahu apa sebab jelasnya, mungkin memang aku tidak pandai mengurus pekerjaan karena yang kutahu selama ini hanyalah bagaimana merias diri dan menghamburkan uang.

Bingung karena sudah tidak banyak lagi kekayaan mas Parman yang tersisa akupun menjual semua sawah yang kami miliki agar aku bisa terus bersenang-senag dengan uang. Aku tak ambil pusing dengan Yudi, Huda, Rohmah, dan Rukha, meski aku ibunya aku tak seberapa kenal dengan mereka selama ini mereka lebih dekat dengan bu leknya atau adik-adikku. Biar Yudi menjadi anak badung sekalipun bahkan sampai dikeluarkan dari sekolahnya aku tak perduli, yang penting bagiku bersenang-senang dan menghamburkan uang. Sampai pada suatu saat aku bertemu dengan mas Seno seorang lelaki yang dapat memikat hatiku kembali. Dia mengaku adalah seorang komandan ABRI, waktu itu tenatara sangat dihormati hingga aku sangat tersanjung. Tak beberapa lama kamipun menikah.

Malang kepalang aku ini, ternyata aku hanya dibohongi oleh mas Seno. Ia bukanlah anggota ABRI, ia hanya tentara gadungan... lebih dari itu dia juga buronan polisi atas kasus pencurian. Selama ini aku kenal mas Seno sebagai seorang yang baik-baik, ia mengatakan kepadaku sedang ditugaskan di desaku, aku percaya saja dan sudah menggantungkan diriku kepadanya. Walaupun aku marah sekali dengan mas Seno aku tidak bisa berbuat apapun karena ku sudah menyerahkan diri sepenuhnya kepadanya. Benar-benar keputus asaan yang kumiliki waktu itu, aku rela kemanapun dan melakukan apapun demi mas Seno, karena aku sudah kalap dan gelap hatiku.

Sebulan setelah pernikahan kami desas desus kebohongan suami ke duaku ini sudah mulai terdengar. Merasa terancam dengan keadaan seperti mas Seno mengajakku untuk pindah ke luar pulau, saat itu di desa tetangga kami sedang ada pendaftaran imigrasi ke kalimantan. Akhirnya kami pun mendaftar dan pindah ke Kalimantan selatan daerah pedalaman, jauh dari kota. Mengetahui rencana seperti itu adik-adikku sangat tidak senang sekali, ia tidak tega membiarkan ke 4 anakku ikut pindah denganku. Aku tidak menghiraukan mereka sama sekali, biar mereka mau menahan anak-anakku disini aku tak perduli, dan itu bagus malahan... aku tidak perlu repot-repot lagi mendengan racauan anak-anak nakal itu. Aku lebih memilih hidup dengan mas Seno dari pada harus ribut mengasuh mereka.

Di kalimantan kehidupan kami tidak semakin baik, kami disana hanya diberi rumah dan lahan untuk memenuhi kehidupan. Tidak seperti mas Parman yang ulet mas Seno adalah lelaki pemalas ia juga tidak pandai mengurus lahannya sendiri hingga kami hanya bekerja menjadi buruh kebun saja selama berpuluh-puluh tahun disana. Setelah jauh dirantau aku jadi sering teringat dengan anak-anakku di jawa. Sudah jadi apakah Yudi dan Huda, sudah menikahkah Rohmah dan Rukha, sesak sekali dadaku ini mengingat mereka. Kehidupan di kalimantan serba susah dan sebuah janji mas Seno hanya bualan. Aku menyesal dan kecewa.

Kadangkala aku mengirim sepucuk surat ke Yudi, anak pertamaku. Sekedar bertukar kabar dan kesusahan kami, selama ini Yudi tidak pernah membalas surat dari ku, ia hanya mengirim wessel berisi sejumlah uang kepadaku. Aku sadar aku tak pantas mengadu kepada mereka, anak-anakku yang telah kusakiti. Suatu hari aku juga berkirim surat kepada Sari dan Tri untuk meminta maaf, dari itu aku baru sadar kenapa mereka begitu menyayangi putra-putriku. Saat mas Parman masih hidup secara diam-diam ia sering membatu keluarga Sri dan Tri, maka dri itu adik-adikku merasa berhutang budi pada mas Parman hingga mereka begitu menyayangi anakku.
 
Bersambung ke bagian 2


Oleh : Zulfikar Alya

19 Juni 2010

Selamat Jalan Priti!

“Hhh...”

Hari ini desahannya cukup panjang. Walaupun Sharon sudah mulai terbiasa dengan desahan yang selalu mengawali tiap rutinitasnya, mau tak mau ia harus mengakui bahwa desahannya kali ini adalah yang paling berat. Apalagi kalo bukan itu alasannya. Hari pertama kali sekolah setelah dua minggu yang panjang mendekam di rumah karena liburan.

Aku harus siap. Anggap saja mereka seperti sebuah kerikil di sudut pandanganmu yang tak terjangkau mata. Ya, kerikil yang tak pernah minta diperhatikan, juga tak pernah memperhatikan. Aku harus bisa menjalani hari ini.Pasti.

“Tenang, aku pasti di sampingmu..” Sharon tersentak melihat sebuah sosok anak perempuan berbaju hijau kini tengah berdiri di depannya dengan senyum manis.

“Kamu... aduh, aku sampai kaget.” Kata Sharon melayangkan tinju candanya yang kemudian tembus melewati bahu anak itu.

“Kamu kan tahu, aku pasti selalu menjagamu, jangan biarkan anak-anak lain memperolokmu. Yakinlah pada dirimu sendiri. Ingat, hanya aku yang mengerti kamu.”

Hanya aku yang mengrti kamu. Kata-kata itu begitu menyanjung Sharon, yang sepersekian detik kemudian meraih kacamata botol susu sapinya dengan mantap dan berdiri lebih tegak.

“Iya, aku harus yakin, Priti...” begitu gadis bergaun hijau itu dipanggil. “Kamu janji kan nggak bakal tinggalin aku?”

“Priti mengangguk penuh keyakinan. “Aku tercipta untukmu Sharon...”
* * *

Walaupun sepatu pantofelnya sedari tadi menimbulkan gema di sepanjang lorong koridor sekolah, tak ada satu pun yang benar-benar peduli. Ketika Sharon yang berjalan tertunduk itu terjatuh ke belakang akibat air pel yang belum kering pun tak ada yang benar-benar menyimak. Sesaat Sharon mengira kepala bulatnya akan sukses beradu dengan lantai, sampai sedetik kemudian ia merasa ada yang menopangnya dari belakang. Ia baru saja akan berterima kasih pada sang empunya tangan, sebelum akhirnya air mukanya memerah, begitu menyadari siapa sang dewa penolongnya.

“Kau tak apa-apa? Hati-hati kalau jalan...”Sesaat sharon merasa dunianya berputar, begitu melihat pangerannya begitu dekat dengannya saat ini. Rasanya dengkul ini lemas dan kepalanya penat untuk sekian detik. Oh. Ia tak mau ini berlalu begitu saja.

“Hei, kau tak apa-apa kan? Apa kau mengalami semacam rematik sampai tak bisa bangun?”

Kuping Sharon memerah seketika. Ia terlompat seakan baru saja menemukan kesadarannya yang sempat mengembara. “Oh.. Ma... ma..af. Ma..ka..s.sih..” ucapnya terbata sambil tergesa lagi. Oh, benar-benar air pel sialan, rutuknya. Tampaknya ia harus membayar ucapannya itu karena sedetik kemudian badannya terayun ke depan begitu cepat dan ia siap terjatuh lagi.

Sharon merasakan badannya tertahan sebelum kacamata botol susu sapinya terjatuh dengan sukses.”Oops. Hampir jatuh lagi! Hati-hati kalau jalan!” kata pangerannya lagi sambil menyangga berat badan Sharon. Sharon tak mempedulikannya. Tangannya sibuk menggapai-gapai ke sekeliling. Berharap bisa menemukan kacamatanya. “Oh, nyari kacamata ya? Ini..”Kevin, begitu sang pangeran dipanggil, langsung menyerahkan kacamata yang terjatuh tadi. Sesaat ia memandang Sharon yang tanpa kacamata. Wih, dibalik kaca tebel ini tersembunyi paras nan rupawan, batin Kevin kumat untuk berfilosofi.
Buru-buru Sharon merebut kacamata itu dan memakainya tergesa. “Makasih. Aku nggak bisa melihat tanpa ini.”

“Sama-sama...” kata Kevin sebelum akhirnya Sharon tergopoh-gopoh meneruskan perjalanannya kembali dengan mata tertunduk. Kevin menatap punggung itu menjauh dengan jutaan rasa penasaran.
* * *

Tahun ajaran baru begitu membosankan seperti biasanya. Teman baru, kelas baru, lingkungan baru, semuanya membuat Sharon begitu nelangsa, frustasi karena tak segera mendapat teman duduk, jengkel karena belum bisa menyapa seorang pun, dan sebal lantaran sekelilingnya pun tak berusaha menyapanya. Kenapa ya?
Ia memandang penampilannya sendiri lewat layar HP yang cahayanya redup. Aku culun. Rambut diikat dua, kacamata setebal pantat botol, baju kebesaran, rok kepanjangan, sungguh bad style dari si aneh Sharon. Siapa yang mau berteman denganku? Apalagi Kevin. Batin Sharon seraya mengerling pangerannya yang asyik bercanda dengan anak perempuan yang agresif. Oh, pikir apa kamu Sharon? Jelas sajalah dia tak mau berteman denganmu. Jangan berharap terlalu banyak!

Kan ada Priti. Ya, Priti. Dia yang selama ini di sampingku sebagai teman. Kalau teman-teman sudah memperolokku, merendahkanku, dan meremehkanku, Sharon selalu menjadi yang pertama menghiburku dengan senyum tulusnya.
Tak terasa bibirnya mengulas senyum. Ternyata sudah 14 tahun ia menjalin pertemanan dengan Priti. Saat itu ia msih berumur 3 tahun, tatkala tetangganya memperoloknya begitu rupa. Saat itu Priti muncul dan membisikkan kata-kata penenang jiwa. “Tenang saja Sharon. Aku selalu di sampingmu, mulai sekarang kita berteman, ya.”

Sejak itu ia selalu muncul tak terduga. Menghibur Sharon sebanyak ia mau, muncul pada saat yang dibutuhkan, pagi, siang, sore, bahkan malam menjelang Sharon tidur. Sharon begitu menyayangi temannya ini. Bahkan ia rela kehilangan apa saja asal tak kehilangan Priti.
Lamunan Sharon pecah tatkala bunyi tumit sepatu kepunyaan Bu Hilda bergema di ruangan. “Ibu tak banyak waku saat ini, karena harus mengawasi OSIS yang mengorientasi murid baru. Yang jelas ibu mau membagi kalian menjadi 8 kelompok untuk mengerjakan tugas laporan pengamatan. Hasilnya akan dipresentasikan minggu depan.”

Terdengar koor ‘yaah’ dari seluruh penjuru kelas. “Tak ada protes. Ibu membagi kalian berdasarkan absen. Absen 1-5 kelompok A. Absen 6-10 kelompok B, begitu seterusnya. Silahkan kalian merundingkan sebuah tema bebas yang berbobot dan bagus. Ibu keluar dulu. Jangan ribut!” katanya sambil berlalu.
Setidaknya Sharon bisa bernapas lega karena ia tak perlu repot mencari teman sekelompok. Namun itu hanya berlangsung sesaat, ketika beberapa saat kemudian ada yang mengganggu pikirannya begitu teringat sesuatu. Mati aku! Namaku kan Liliana Sharon, berarti aku sekelompok dengan...

“Oi, aku sekelompok denganmu kan?” bagai lalat, dalam sekejap Kevin sudah hinggap di bangku kosong sebelah Sharon. Seketika jantung Sharon berdebar kencang. Duh, dia sekelompok dengan pangerannya!

“I...iya.” penyakit lama kumat. Tergagap.

“Eh, kita sekelompok sama siapa aja?” tiba-tiba Keisha sang primadona sudah berdiri di depan Sharon yang mematung. Begitu melihat Sharon, Keisha tak susah payah untuk menahan pandangan mencelanya. “Yaah, sama dia. Eh tapi nggak apa-apa kan Vin? Kita bisa sedikit santai. Kan ada si kacamata ini.”

Darah Sharon berdesir tak enak, namun segera dikuasainya.

“Apaan sih Kei? Itu yang disebut kerja kelompok?” tanya Kevin kalem, namun cukup membuat kuping Keisha memerah. “Nggak ada kerja sendiri, kita harus kerja semua. Oke?” katanya lagi disertai anggukan kasual Mona dan Lando. Keisha akhirnya mengangguk lemah. “Ya udah. Enaknya tentang apa, nih?”

“Tentang ini saja...” Mona memberi usul yang segera diinterupsi oleh Lando yang juga semangat memberi ide. Mereka begitu bersemangat mengutarakan pendapat, kecuali Sharon.

Duh, aku harus gimana? Aku takut ngeluarin pendapat. Kepala Sharon kini berpusar hebat, menciptakan pening kecil di sisi kiri dahi. Ia tak kuasa berpikir dan terus menunduk, tak menyadari bahwa kini sepasang bola mata sibuk mengamatinya dengan penuh minat.
* * *
Diary, hari ini aku kebagian tugas kelompok bersama Kevin. Seketika aku kehilangan kata-kata. Walaupun hampr tak ada kata-kata yang aku keluarkan sepanjang hidup, tapi kali ini aku benar-benar kehilangan hasrat untuk bicara. Huff...

“Lagi nulis apa Sharon?” dalam satu kedipan mata Priti sudah berdiri di sampingnya.
“Lagi nulis kejadian di sekolah tadi. Waktu aku satu kelompok sama Kevin. Aku benar-benar deg-degan.”
“Kamu suka padanya?” mendadak raut muka Priti berubah beku.
“Eng.. enggak. Aku hanya takut bicara dengan laki-laki populer.”Sharon mengelak. “Tenang Priti. Hanya kau temanku.”
“Aku harap begitu” katanya dengan nada melunak.”Ingatlah. Hanya aku temanmu Sharon.”

Sharon tersenyum persis ketika pintu di belakang Priti berderit disertai Mama Sharon memasuki ruangan. “Kamu bicara dengan siapa nak?”

“Dengan Priti Ma. Barusan dia ada di sini.” Jawab Sharon kalem.
“Bukankah Mama sudah bilang, bahwa Priti tak ada sayang...”
“Mama, Priti adalah teman terbaikku, Mama nggak boleh bilang kalau dia tak ada!” Sharon menggebrak meja, menumpahkan segala emosi.”Kenapa sih mama nggak percaya?”
“Sayang, bukannya mama nggak percaya. Tapi dia hanya khayalanmu nak..” Suara Mama Sharon mulai bergetar.

“Sekali lagi mama ngomong begitu” Sharon menahan napas. “Aku tak segan untuk keluar dari rumah ini.”lalu ia berbalik menaiki ranjang,dan menarik selimut sampai menutup kepala dan tidur membelakangi Mama Sharon yang kini terisak dalam diam.
* * *

Hari ini Sharon akan mengerjakan tugas kelompok di rumah Kevin. Ingin rasanya ia melarikan diri. Namun ia sadar ia tak bisa. Ia hanya bisa mengikuti alur cerita.

“Sharon, kok duluan sih? Bareng saja!” panggil Kevin ketika kaki kanan Sharon hendak melangkah keluar kelas. Semu merah menjalar cepat di pipinya.
“Bareng dong. Mona, Lando, Keisha, ayo pergi! Time’s money!”

Lalu mereka berjalan berjejeran. Semuanya asyik berkicau, mengabaikan Sharon dalam kebisuan. Sharon sendiri pun lebih tertarik memandang tali sepatunya.

“Hei, Sharon, kok diam saja?” kata kevin tiba-tiba sementara yang lain sedang membeli minuman. Kini tinggal mereka berdua. “Oh ya kau tahu? Kau lebih cakep tanpa kacamata lho. Lebih baik kau pakai soft lens. Memangnya kau minus berapa?”
Sharon merasakan dadanya berdenyut-denyut. “Er... Minus 8”

“8?? Yang benar saja. Pasti sulit untuk melihat ya?”Sharon membuat gerakan seperti mengangguk. “Hei, yang lain udah selesai. Yuk berangkat!”
Lalu mereka kembali berceloteh dan Sharon asyik dengan dunianya.
* * *

Kini semua tengah sibuk dengan bagian masing-masing. Mereka memutuskan mengangkat tema ‘Kekerasan Terhadap Anak dibawah Umur’ untuk dipresentasikan. Kalau ini, aku jagonya, batin Sharon puas seraya mengumpulkan bahan dari berbagai koran. Sebelum dipindahkan ke kertas kosong dengan bahasa sendiri yang variatif.

Waktu terus bergulir hingga jarum jam menunjuk angka 5. “Wah, enggak kerasa ya udah jam 5” celetuk Mona tiba-tiba.

“Iya, capek.” Sahut Lando sambil menguap. “Vin, udah selesai? Vin? Haloo..”
“Eh, oh sudah...”
“Kau mikir apa sih?”
“Enggak. Eh, Sharon, bentar ya. Maaf, maaf banget.” Tanpa diduga Kevin membuat gerakan seolah mau membelai Sharon. Keisha terbelalak tatkala Kevin ternyata hendak membuka ikatan rambut Sharon.
“Ei..Ei, apa yang kau lakukan?”pekik Sharon tertahan sebelum Kevin melepaskan kacamata kebangsaan Sharon.
“Nah gimana Do? Lebih baik seperti ini kan?” kata KSevin puas seraya mengagumi karyanya. Sang karya sendiri hanya sanggup mematung.
“Wow. Kesan nerd hilang sudah kalau rambutmu digerai. Mulai sekarang seperti ini saja.” Puji Lando disertai anggukan semangat Mona dan –tak diduga- Keisha.
“Iya Sharon, kalau kamu dandan seperti ini, pasti kamu nggak akan dipandang sebelah mata lagi.” Tutur Keisha sungguh-sungguh.
Sharon merasakan sesuatu yang hangat merayapi relung hatinya.
* * *

Ternyata mempunyai teman sangatlah menyenangkan. Semenjak kejadian sore itu, Sharon tampak lebih berani dalam berbusana. Roknya dipotong hingga mencapai lutut atasan dikit. Bajunya pun dirancang sedemikian rupa agar lebih pas di badan. Kacamata pantat botol itu pun tersimpan rapi di laci, tergantikan oleh soft lens hijau zamrud. Kini pun ia lebih berani berbincang dengan Kevin, seperti,

“Vin, siapa yang akan jadi moderator nanti?”
Dan Kevin pun tak sungkan lagi mengajak bicara Sharon, seperti

“Sharon, kau berubah. Jadi lebih berani dan PD. Good, I Like it.”
Seketika Sharon tak merasa kakinya berpijak di tanah. Asanya makin melambung seiring dengan jantungnya yang berdebar tatkala berhadapan dengan pangerannya. Sesekali ia juga menangkap percik-percik sayang yang terpancar dari mata Kevin. Sharon serasa melayang. Terbuai lembutnya awan dan betah berlama-lama.

“Jadi kamu sudah melupakan aku Sharon?”cetus suara dingin yang berasal dari sudut kamar Sharon. Imaji Sharon pecah seketika.

“Priti! Kamu kemana aja? Aku kangen...kenapa jarang muncul?”

“Karena kamu tak menganggapku ada.” Sahut Priti sedih seiring dengan tubuhnya yang mulai pudar. “Aku akan menghilang, Sharon...”

“Jangan Priti! Kamu adalah temanku!”

“Kalau begitu kau bunuh dia!” desis Priti luar biasa berbahaya seraya bergerak cepat ke arah Sharon yang terbelalak. “Bunuh Kevin. Dia yang merebutmu dariku!”

“Aa..aa... Kau gila?” erang Sharon tak percaya mendengar hal setabu ini keluar dari mulut Priti yang sedetik kemudian hilang bagai asap. Hening menyusul, menjemput Sharon yang sesenggukan dalam diam.
* * *

Frekuensi munculnya Priti melebihi kapasitas biasa tiap Sharon bertemu Kevin, ia muncul bagai nyamuk dan selalu mendesiskan kata yang sama. “Bunuh dia!”. Sharon merasa hampir gila, hingga suatu hari ia dan Kevin berada di atap sekolah dengan ketinggian 2 lantai.

“Kenapa kau memanggilku ke sini?” tanya kevin bingung. Ia hampir mencapai bibir atap sementara desisan “Bunuh dia”-nya Priti begitu memekakkan telinga. Priti sendiri sekarang berdiri di belakang Kevin dengan wajah luar biasa dingin.

“Bunuh dia...”

Sharon maju perlahan. Tubuhnya bergetar hebat. “Sharon, hei kamu baik-baik saja?” kevin bertanya bingung.

“Bunuh dia....”

“Sharon, ada apa?”tanya Kevin sementara tangannya hendak menyentuh dahi Sharon.

“BUNUH DIA”

Bagai kesetanan, Sharon meraung dengan tangan terjulur ke depan, siap mendorong Kevin. Ketika jarak mereka tak lebih dari 5 cm, Sharon berbelok dan dengan emosi mengganti sasaran targetnya.

“ENYAH KAU PRITI!!!”

Tubuh Sharon terayun begitu cepat ketika tangannya menembus badan Priti yang transparan. Berpijak di udara, jatuh dengan kecepatan luar biasa, semuanya terjadi begitu cepat. Lalu semuanya gelap.
* * *
Samar-samar bau alkohol menerobos penciuman Sharon. Lamat-lamat dibukanya mata yang entah berapa lama terpejam. Ketika retinanya benar-benar
berfungsi, kini giliran fungsi mulutnya yang bekerja. “Emmh... Dimana nih?”

“Sha, kamu udah sadar?” Kevin menggenggam tangannya dengan erat. Di belakangnya berdiri Lando, Mona, dan Keisha yang berdiri dengan cemas.

“Apa yang terjadi? Ugh..” Sharon merasakan sakit luar biasa menyerang keningnya, yang segera ditahan dengan segala kemampuan.

“Kamu jatuh dari lantai dua Sha. Beruntung kamu tersangkut pohon...” papar Kevin seraya mengeratkan genggamannya. “Apa yang terjadi Sha? Kamu mengigau nama Priti”

Sharon tercengang mendengar nama itu keluar dari mulut Kevin. Rupanya rasa traumatik yang begitu besar sangat mempengaruhinya hingga menyerang memori Sharon dan memaksanya untuk mengatakan nama itu dalam alam bawah sadarnya. Perlahan diutarakannya semua yang akhir-akhir ini menyesakkan daada Sharon. Mona dan Keisha mendekap mulut dengan kedua tangan sementara Lando membelalak.

“Sharon, itu hanya khayalanmu...Cobalah menerima kalau ia tak ada.”kata Kevin lembut.

“I’ve tried. But She’s so real.” Tiba-tiba sudut matanya menangkap gaun hijau melambai-lambai dari malik punggung Kevin. Priti berdiri di sudut ruangan. Wajahnya tampak sendu. Setetes air mata bergulir di pipinya. “Dia ada di sini, Vin. Dia ada...”

“Konsen, Sha. Dia nggak ada. Konsen. Pejamkan mata!”. Sharon menurut. Ia mencoba untuk fokus. Namun gendang telinganya menangkap sesuatu yang lain.

“Maafkan aku Sharon. Aku hanya ingin kamu menjadi milikku seorang. Aku salah. Aku cemburu. Tapi kini aku sadar kamu punya teman yang lebih baik dari aku. Selamat tinggal Sharon. Kuharap kau bahagia...”
Sharon membuka mata dengan cepat. Sosok Priti sudah tak ada di sana. Ia lenyap.

“Bagaimana?” tanya Kevin gusar.

“Sudah tak ada Vin. Lenyap.” Rasa lega berbaur dengan sedikit luka yang terbersit di hati Sharon. Kenyataan bahwa bertahun-tahun ia telah menjalani pertemanan dengan Priti membuat hatinya sakit tatkala kehilangannya.

“Priti temanku yang paling baik.” Tanpa sadar Sharon berucap. “Dia selalu ada ketika aku butuh dia. Dia benar-benar sosok teman idaman. Waktu kecil aku sering bermimpi punya teman seperti dia. Cantik, lembut, anggun, dan entah darimana ia muncul. Mungkin keinginan yang kuat untuk berteman dengan teman seperti itu yang membuat ia muncul di khayalanku secara nyata. Dan ia benar-benar memberikan segala kenyamanan seorang sahabat. Dia sahabat yang baik.”

“Memang, sahabat yang paling baik sangat melekat di hati kita. Walau itu imajinasi. Walau ia sekarang tak ada, tapi sebenarnya ia tetap ada.” Kevin menunjuk dadanya. “Di sini... Di hati kita. Tapi kita tak boleh berputar di masa lalu. Biarlah Priti menjadi salah satu kenangan terindahmu. Lagipula kau punya kita kan?”
Sharon mengukir senyum paling manis. “Makasih, Kevin.”

“Iya, Sha. Kan ada kita juga. Kau tak usah sedih lagi ya. Semangat!” timpal Mona sembari mengacungkan tinju ke udara. Senyum Sharon semakin lebar.
Priti, aku tahu kau hanya khayalanku. Khayalan yang muncul di saat aku sendiri. Sepi, terbunuh oleh perasaanku sendiri yang menginginkan kehadiran seorang teman. Tapi kau tetaplah kenangan terindah dalam hidupku. Kenangan dalam masa kesepianku.
Tapi Priti, kini aku tahu satu hal, bahwa aku tak sendirian lagi.... Walaupun begitu, aku tak akan pernah melupakanmu, karena kau merupakan anugrah terindah dalam hidupku.
Selamat Jalan Priti....

Oleh : anien-chan

20 Oktober 2009

Indigo


Tadi Eleanor bilang suka padaku. Aku belum jawab. Sebagai cewek, jual mahal itu penting. Tapi bagi Sisi, kembaranku satu itu, dia bilang aku bodoh.

“Itu namanya mainin perasaan!” katanya. Hah, Sisi salah besar, aku cuma mo ngetes, Eleanor benar-benar serius atau justru dia yang main-main. Kalo digantung satu dua hari aja nyerah, jangan berani nembak Sashi! Lagian, aku bukan perempuan yang gampang ambil keputusan. Apalagi masalah cinta, harus dipikir masak-masak dulu baru aku berani buka mulut.

Malam ini, kuputuskan jalan-jalan keluar, keliling kompleks sambil cari angin sepoi-sepoi. Jauh-jauh dari Sisi. Suasana amat mencekam gelap-gelap begini. Hanya terdengar gonggongan anjing dan jangkrik mengerik. Jalanan sesepi desa habis kena banjir, belum lagi lampu merkuri di sepanjang trotoar kedap-kedip melulu pertanda mau padam, disertai hujan gerimis. Meski begitu, di ujung blok sana, ada kafe tenda superramai. Aku mutusin berteduh di salah satu stand, memesan seporsi bakso spesial dan mengambil tempat di meja pojokan. Jernihnya kuah bakso bikin lidahku bergoyang tak sabar, sampai…

“Misi, boleh gabung?” suara nge-bass cowok bergaung di belakang telingaku. “Meja lain penuh.”
Aku memutar bola mata ke seantero tenda untuk memastikan bahwa cowok itu gak bohong. Dengan terpaksa, aku mengangguk. “Ya deh.”

“Trims,” sahutnya manis. Senyum simpulnya terkembang sempurna. Kalau kuperhatikan, umurnya belum 18 tahun. “Sering makan di sini?” tanyanya seraya menggulung mi.
“Baru sekali. Napa?”
“Punya masalah, kan?” tebaknya sok tahu.
“Gak.”
“Masa? Biasanya tipe-tipe kamu, datang ke sini karena bingung mikir cinta,” ujarnya datar.
Lho, memang tadi aku cerita sedang menggantung cinta cowok bernama Eleanor? “Kok tahu?”
“He he,” ia nyengir. “Betul kan? Aku suka kamu ngegantung dia, dia rese.”
“Kamu siapanya Eleanor?”
“Kenalin, Kaemon.”
Buset, it, itu nama orang? Bukan tokoh kartun Jepang? “Kamu mata-matanya Eleanor?”
“I’m not,” Kaemon melirik ke kanan, kemudian mencondongkan badannya mendekati wajahku. Ya Tuhan! Dia mau apa? Jangan sampai Kaemon berbuat macam-macam! Aku merem ketakutan, khawatir kalau cowok ini menubrukkan bibirnya ke bibirku trus…

Salah. Rupanya ia merapatkan jaketku yang melorot sehingga tank-top ini terlihat jelas. “Ati-ati, ada pria rada mesum di arah jam dua,” bisiknya.
“Mesum?” Aku menekuri arah tatapan Kaemon. Mesum dari mana? “Dia pake kemeja, necis, sepatu pantofel, celana lurus dan berpeci. Gak keliatan hidung…”
“Cintakuuu, minta Cola satu dong,” tanpa kuduga, pria tersebut gelayutan mesra pada seorang waitress. Demi Tuhan, nggak nyangka!
Kaemon menahan tawa. “Tuh kaaan.”

***

Aku tatap secarik kertas. Hasil ulangan trigonometri minggu lalu. Nggak tahu deh, waktu itu Bu Reni kerasukan apa, tapi sebelum diajarkan, kami malah tes trigonometri mendadak. Siaaall!

Yang pasti, ada angka 100 warna merah terpampang besar-besar di atas kertas ulanganku. Anak-anak lain, termasuk Sisi yang melirik kertas ulanganku, terkejut bukan main. Aku aja shock, apalagi mereka?
Pulang sekolah, aku dapat kejutan satu lagi. Bukan nilai matematikaku, tapi soal Eleanor. Kemarin dia menembakku, now, kayaknya doi lupa dan malah asyik belajar teori atom Dalton bareng cewek adik kelas. Kaemon betul, Eleanor brengsek!

***

Memasuki teras, suasana rumahku lebih pikuk dari biasanya. Tanteku satu-satunya datang dari Jogja. Kusambut tubuh Tante Nia yang duduk di ruang tamu. Sudah bertahun-tahun kami tak jumpa.
“Gimana? Masih suka liat yang serem-serem?” tanya beliau.
Dahiku berkerut. “Serem?”

“Loh, waktu kecil kan kamu hobi liat begituan. Yang ada anak kecil-lah, hantu itu-lah…”
Masa? Kok gak ingat ya? “Nggak tuh. Ngomong-ngomong, itu apa?” aku menunjuk buku besar yang digenggam Tante Nia.
“Album fotomu. Eh, foto-foto ini beneran?”
“Kenapa?”
“Nih, liat. Kata mamamu, kamu masih tiga bulan, kok bisa pegang botol susu sendiri?”
“Salah ya?”

“Ya salah. Masa masih delapan bulan bisa ngomong, trus satu tahun nyanyi lagunya Chrisye udah kenceng banget, lagi!” Tante Nia menyodorkan fotoku tengah memegang mike.
“Owh, biasaaa,” penyakit narsisku keluar. “Tante juga, tumben ke sini?”
“Cuti sebentar, mau bikin skripsi.”
“Tentang?”
“Biasa, anak hukum kerjaannya ngutak-atik hukum pidana melulu,” Tante Nia menyandarkan kepala di sofa.
“Tentang KUHAP gitu?”
“Yoi.”

“Padahal kalau aku disuruh milih, lebih seneng hukum pidana daripada perdata atau hukum adat. Susah ngapalin UU, belum lagi ada versi Belanda-nya,” ceritaku.
Awalnya Tante Nia terperangah heran, tapi lama-lama ia mulai menikmati perbincangan. “Iya, apalagi kalau sudah sampai hukum dagang, kan bakalan dibagi-bagi lagi tuh…” dan kami terhanyut dalam dialog panjang sepanjang siang.

***

“Nevermind,” jawab Kaemon gembira setelah aku cerita soal Eleanor. “Insting pria jitu, kan!” godanya. “Malah besok-besok lebih banyak Eleanor-Eleanor lain bakal ngejar kamu.”
“Makan tuh insting!”

“Gini-gini IQ-ku 180 lho!” Kaemon membela diri.
“Oh,” aku melirik ke samping kiri dan kananku. “Kayaknya kita diperhatiin orang-orang,” bisikku.
“Tauk ah,” Kaemon cemberut mendengar ketidakpedulianku. “Ambilin botol kecap dong, deket kamu tuh,” menggerutu ia.
“Ntar, baksonya enak loh!” aku sibuk meniup-niup kepulan asap kuah bakso.
“Aku makannya kapan ni?”

Aku taruh sendok lalu memandang botol kecap di sampingku dengan tajam. Jaraknya sekitar 40 senti tepat di sudut meja. Andai aku punya kemampuan telekinetik, sehingga dengan kekuatan pikiran, botol itu bisa bergeser dan berpindah ke tangan Kaemon. Aku menyipitkan mata, tapi ah, percuma! Khayalanku mengada-ada. Aku memutar bola mata kembali ke mangkok bakso, akan tetapi, WUSH! Tiba-tiba botol itu jatuh ke depan. Untung Kaemon sigap menangkap. “Ada yang usil nih.”
“Siapa?”

Kaemon langsung komen sambil mengelus-elus dagunya bahwa kami baru saja dikerjain hantu. Huh, mana percaya!

***

Ino membawa setangkai mawar lalu bilang suka padaku. Waks, ini rekor! Bayangin, baru tadi pagi, Adi, sang Ketua OSIS menembakku. Belum lagi masuknya segepok surat ke lokerku minggu-minggu ini, ditambah belasan SMS yang rata-rata berisi ajakan makan siang atau cuma say hi doang.

Asyik, tapi yang mengganjal pikiranku bukan itu. Ada hal penting dan harus kubicarakan dengan Sisi. “Cowok aneh?” ulang Sisi setelah kuceritakan tentang Kaemon. Cowok itu benar-benar meninggalkan tanda tanya besar. Kok dia bisa tahu kalau hari ini banyak sekali cowok sesekolahan mengejarku?
“Orang yang tau future gitu kayaknya ada istilahnya deh?” tanyaku.

“Dukun?” Dasar, wajah boleh cantik, tapi otak Sisi tetap susah diajak serius. Hingga akhirnya keluar beoan dari mulut Sisi. “Indigo kan?”

***

Aku browsing Internet dan menemukan banyak kejutan.
Indigo. Rata-rata, anak indigo emang beda sama anak-anak sebayanya. Anak indigo berjiwa dewasa serta mampu menghargai perbedaan. Indigo bukan penyakit dalam daftar WHO. Sejenak aku teringat, waktu itu Kaemon betulin jaketku agar terhindar dari hidung belang. Sangat dewasa, kan?

Kupatut lagi monitor komputer. Anak indigo punya banyak sifat. Pertama, tingkat kecerdasan superior dengan IQ tinggi. Kedua, anak indigo dapat ngerjakan sesuatu tanpa diajarkan. Ketiga, bisa nangkep perasaan orang lain. Keempat, tahu sesuatu yang tidak dapat dipersepsi oleh pascaindera di masa kini, masa lampau, dan masa depan. Persis Kaemon. Dia tahu masa depanku!

Yang bikin bulu kudukku berdiri ialah poin kelima: mampu mengetahui keberadaan makhluk halus. Jangan-jangan, benar kata-kata Kaemon kalau di stand bakso tersebut ada penunggunya? Bahkan, menurut info di buku, anak indigo cenderung memiliki ‘teman-teman tak terlihat’. Hiii!

Ya Tuhan, aku berteman dengan cowok abnormal! Gimana kalo dengan kemampuannya dia bisa mengetahui seluk-beluk hidupku bahkan yang paling rahasia sekalipun? Begitu kubicarakan masalah ini ke Sisi, dia ngakak. “Masa cowok itu indigo?” celetuk Sisi tak percaya.

Daripada jabarin sepanjang Sungai Nil, mending aku kasih langsung buktinya. “Ayo ikut!”

***

Kafe tenda, khususnya di stand bakso tampak ramai. Aku ajak Sisi ke tempat ini untuk menemui Kaemon, tapi hasilnya nihil. Sisi marah dan bilang aku tukang bohong. Tapi suer, setiap kali aku kesini, Kaemon mesti muncul. “Pak,” kuputuskan tanya pada pemilik stand yang sedang repot di balik gerobak. “Laki-laki yang biasanya ngobrol sama saya di pojokan itu, tinggi, terus rambutnya cepak, udah datang?”

“Bukannya Non biasa duduk sendirian?”
“Bapak nggak liat? Yang tempo hari duduk sama saya, sampai saya ngobrol cekakakan!”
“Enggak, malah saya heran, kok Non sering bicara sendirian? Seolah-olah Non lagi ngobrol sama orang, tapi bener, nggak ada siapa-siapa kok Non,” jelas tukang bakso itu.
“Bapak jujur?” Sisi nimbrung.

“Suer. Sampai diliatin orang-orang lho! Kalau nggak percaya, tanya deh ke pengunjung lain.”
Mampus. Apa-apaan ini? Lalu dengan siapa aku berbicara? Siapa Kaemon? Aku mulai mengingat ciri-ciri anak indigo yang pernah kulihatkan di Internet: cenderung memiliki ‘teman-teman tak terlihat’. It’s me! Dapat ngerjain sesuatu tanpa diajari, liat makhluk halus, kecerdasan superior. Itu aku kan?

Tiba-tiba ulangan trigonometri dapat 100, bisa ngoceh tentang hukum pidana bareng Tante Nia dan sekarang punya teman tak terlihat!? Jangan-jangan jatuhnya botol kecap karena telekinetikku, lagi!

J-jadi sebetulnya aku yang… Di tengah rintik hujan, aku berjalan tanpa arah. Tak kupedulikan teriakan Sisi yang memanggilku.



Oleh : Ayo_shiari

Real Girlfriend Or Real Actress


“Boleh aku tau kenapa kau memilihku?”di samping sebuah ranjang, Lia dengan mata berkaca-kaca menatap Rian, seorang cowok ganteng berwajah pucat yang sedang berbaring sekarat di depannya.
Dengan terbata-bata Rian menjawab ”Karena … aku mencintaimu … aku … aku …”

Tak sempat Rian melanjutkan kata-katanya, napas terakhirnya sudah terlanjur dihempaskan. Air mata Lia langsung mengalir deras, diikuti dengan teriakan histeris Lia “Rian!”.

Sambil mengguncang-guncangkan tubuh Rian yang sudah tak bergerak lagi, Lia terus berteriak”Rian, bangun! Jangan tinggalkan aku seperti ini! Rian, bangun!!”

“Cut!”sebuah suara dari belakang memecahkan suasana dramatis yang sedang terjadi. Terlihat Hanes, seorang cowok bertubuh agak tinggi dan besar, memakai kemeja dan jeans casual sedang tersenyum sambil bertepuk tangan. “Bagus! Lo berdua emang bakat jadi aktris dan aktor”

***

Siapa yang nggak kenal Lia? Diva ekskul drama, cantik, pintar dan yang terpenting aktingnya bener-bener keren itu sangat memikat para lelaki buaya darat d sekolah Lia. Namun, meskipun cantik, pintar dan jago akting, Lia hanyalah perempuan biasa. Yang punya rasa cinta dan kasih. Bukan hanya itu, Lia juga punya Prince Charming yang sangat disukainya, Tony. Tony adalah seorang cowok ganteng paling terkenal dari ekskul basket. Lia memutuskan akan mengungkapkan perasaannya kepada Tony besok, seusai dramanya dipentaskan.

***

Selesai latihan, Lia langsung pergi menuju restoran tempatnya dan Tony janjian. Hari ini Tony ulang tahun, jadi Lia ditraktir makan sepuasnya di restoran itu. Betapa beruntungnya Lia, karena hanya dialah yang ditraktir Tony hari ini. Padahal, Lia dan Tony kan baru kenal tiga bulan. Kejadian itu bermula dari jadwal ekskul drama dan basket yang tiba-tiba aja bentrok akibat ketidakbaikan menagement pembina ekskul. Jadi kedua kelompok itu menjalani kegiatannya dengan berbagi pembina.
Hal beruntung itu pun menghampiri Lia. Saat itulah dia berkenalan dengan Tony dan seketika itu juga mereka jadi akrab. Padahal, menurut informasi yang didapat Lia, Tony tuh nggak begitu suka deket-deket sama cewek. Dan itu berarti Lialah satu-satunya cewek dan cewek pertama yang bisa deket sama Tony.
Dengan perasaan senang, Lia sampai di restoran. Setelah celingak celingukan beberapa kali, akhirnya Lia menemukan Tony sedang duduk di sebuah kursi dan segera menghampirinya.

“Hi, dah lama?”Lia tersenyum, kemudian duduk di seberang Tony.

Tony tersenyum.”Barusan, kok!”

“Gimana? Kita mau makan apa?”tanya Lia bersemangat.

“Kan lo yang ditraktir, jadi lo aja yang tentuin”Tony menyerahkan buku menu kepada Lia.

Lia ketawa.”Duh, jadi nggak enak, nih! Kan lo yang traktir. Lo aja deh yang tentuin”Lia mendorong buku menu ke depan Tony.

Tony tersenyum. Kemudian mengambil buku menu dan membukanya.”Oke, kalo gitu gue yang tentuin, ya. Tapi inget, makannya harus habis, nggak boleh ada sisa sedikit pun”

Lia hanya tersenyum nakal.”Lho, ini kan bukan restoran buffet”
Tony geleng-geleng kepala. Lia tertawa senang. Tony mengusap-usap dagunya sambil memperhatikan tulisan-tulisan dalam buku menu.”Ehm … gimana kalo kita makan steak aja?”

“Steak? Ng …”Lia terlihat gelisah.

“Kenapa?”Tony mengerutkan alisnya.

“Sebenernya … gue vegetarian. Tapi kalo lo mau makan nggak pa pa kok. Gue makan yang laen aja”ucap Lia dengan tampang kasian.

Tony terlihat serius.”Oo… sorry kalo gitu. Ya udah, kita pesen yang laen aja, ya”

Tony kembali membolak balik buku menu.”Ehm … kalo gitu, gimana kalo kita pesen soup aja?”

“oup?”Lia kelihatan terkejut.”Ada santennya nggak?”

Tony memperhatikan gambar dalam buku menu.”Kayaknya sih ada. Kenapa?”

“Ng … gue … gue alergi santen”ucap Lia pelan.

Sekarang giliran Tony yang terkejut.”Oo… gitu ya? Oke, kalo gitu …”tangan Tony menelusuri tulisan-tulisan dalam buku menu dengan kecepatan siput.
Beberapa menit berlalu, namun Tony belum juga menentukan menu ke-3. Cowok itu kelihatan bingung dan sedikit takut, maksudnya takut salah milih menu lagi. Dan tiba-tiba aja tawa Lia meledak. Tony kontan melongok dan memperhatikan Lia dengan tampang bego.

“Kenapa?”tanya Tony bingung.

“Haha … sebenernya … gue nggak vegetarian”kata-kata Lia terus diiringi tawa.”Gue … gue juga nggak alergi santen”

Tony terlihat memperhatikan Lia dengan serius. Wajahnya seperti menyiratkan kata-kata berikut. ”Apa sih maksud cewek ini?”
Masih diiringi tawa. ”Akting gue bagus, khan?”
Tony pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala. ”Hmm… susah deh kalo sama calon aktris…”
Lia tersenyum bangga. ”Tertipu ni yee …”
“Iya, deh! Gue tertipu. Sekarang lo aja deh yang pesen makanannya. Gue udah blank, nih!”kata Tony sambil menyerahkan buku menu kepada Lia.

***

Gemuruh suara tepuk tangan memenuhi ruang aula. Lia dan kawan-kawan aktris dan aktor dari ekskul drama bergandengan tangan dan memberi hormat kepada penonton dari atas panggung. Selesai beres-beres, Lia buru-buru keluar aula dan menemui Tony di sana. Di depan, Tony sudah menunggu Lia. Sambil tersenyum, Tony mengacungkan jempol ke arah Lia. ”Hebat!!”

Lia ketawa. ”Makasih, ya”

“Ehm… jangan lupa, lho! Lo kan janji setelah nonton drama ini lo mau traktir” tagih Tony.
“Iye, iye … gue nggak lupa, kok!”

***

Tony melihat ke sekeliling. ”Suasana restoran ini romantis banget, pantesan lo maksa-maksa mesti ganti baju dulu baru ke sini”

Lia ketawa. ”Asyik, khan! Ada musiknya lagi”

“Oke, sekarang kita mau pesen apa?” tanya Tony sambil mengacungkan buku menu.

“Pecel lele…” celetuk Lia.

“Pecel lele nenek lo, restoran elit begini mana ada pecel lele?”Tony ketawa.

Tiba-tiba aja wajah Lia terlihat sedih. Tony jadi agak khawatir.

“Kenapa?”

“Ng … gue jadi inget nenek gue…” Lia mulai menitikkan air mata.

Tony kelihatan ketakutan, ia pun segera mengusap air mata di wajah Lia. ”Emang nenek lo di mana?”
“Nenek … nenek gue udah meninggal” air mata Lia makin deras.

Tony kelihatan bingung, nggak tau mesti gimana. ”Ng …”

Lia masih menangis.

“Ng …”Tony masih berpikir mau gimana menghibur Lia.

Tapi, tiba-tiba aja hal itu jadi nggak penting lagi. Tawa Lia meledak.

“Ketipu lagi!”Lia dengan wajah berlinang air mata ketawa.

Tony menghela napas. ”Lia … lo bener-bener bikin gue bingung. Kapan sih lo bener-bener jadi Lia dan kapan lo jadi aktris?”

Lia ketawa. ”Tebak aja”

Tony tersenyum. ”Ya udah, sekarang kita udah bisa pesen makanan, khan?”

Lia mengangguk senang.

***

Terlihat Lia dan Tony sedang berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Kemudian mereka berhenti di depan sebuah rumah, rumah Lia.

Tony tersenyum. ”Oke, sampe besok, ya”

Lia tersenyum sambil melambai-lambaikan tangannya.”dadah”
Tony berbalik dan berjalan menjauh. Tapi tak lama kemudian teriakan Lia menghentikan langkahnya.

“Tony!” panggil Lia.

Tony menoleh, Lia sudah ada di belakangnya sambil terengah-engah.

“Kenapa?” tanya Tony.

“Gue … ada yang mau gue ngomongin” Lia terlihat gugup dan salah tingkah.
Tony melipat tangannya dan tersenyum. ”Ngomong aja, nggak pa pa, kok!”

Lia sedikit tertunduk.

”Gue … sebenernya sejak dulu gue suka banget sama lo. Tapi … gue nggak berani bilang atau pun deketin lo, soalnya ada gosip yang bilang kalo lo tuh benci sama cewek. Tapi … waktu jadwal ekskul kita bentrok, kita jadi kenal dan … jadi akrab kayak sekarang. Gue seneng banget”

Tony kelihatan menanti-nanti apa kata-kata Lia selanjutnya.”Jadi?“

“Jadi … lo … lo mau nggak … jadi … pacar gue?”Lia kelihatan gugup sekali waktu kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Tony tersenyum. ”Lia … sebenernya … dulu gue emang benci sama cewek. Karena gue pikir cewek tuh kerjaannya cuma ngegosip dan melakukan kegiatan sejenisnya. Tapi hal itu berubah sejak jadwal ekskul kita bentrok waktu itu. Waktu itu gue liat lo lagi akting, gue bener-bener kagum. Gue nggak nyangka kalo di dunia ini ada cewek kayak lo. Lo bener-bener ajaib. Karena itu gue jadi suka bertemen sama lo”

Lia berubah jadi semangat, wajahnya memerah akibat malu.

“… Belakangan, gue sadar kalo perasaan gue ke elo bukan cuma temen. Ternyata … gue juga suka sama lo … dan gue berencana nembak lo. Tapi nggak disangka, malah lo yang nembak gue duluan”

“Jadi … sekarang kita udah jadian?”Lia bersemangat sekali, wajahnya berseri-seri.

Tony terlihat serius.”Sorry … cerita gue belom selesai. Tolong dengerin dulu sampe selesai. Dulu, gue emang niat nembak lo”

“Dulu?”Lia berteriak dalam hati.

“… tapi ada suatu hal yang mengubah itu”

“Apa?”tanya Lia cepat.

Tony mempertegas kata-katanya.”Masalahnya, gue nggak tau kapan lo jadi Lia yang sebenernya dan kapan lo lagi akting. Jadi, gue nggak tau kata-kata lo yang mengharukan barusan itu bener atau enggak. Siapa tau lo lagi akting kayak waktu lo bilang kalo lo itu vegetarian, alergi santen atau sedih karena nenek lo yang udah meninggal”

“Tapi … tapi gue bener-bener suka sama lo. Gue nggak lagi becanda, gue serius, kok!” Lia membela diri.

Tony menggeleng. ”Sorry … gue nggak bisa … udah cukup gue dibohongi 2 kali, gue nggak mungkin ketipu ketiga kalinya”

Kemudian, Tony pun pergi meninggalkan Lia seorang diri. Lia segera berlari ke dalam rumah dan menangis di dalam kamarnya.

***

Meskipun sedih, Lia tetep pergi ke sekolah keesokkan harinya. Tapi, begitu ia sampai di kelas …

“Wah, Lia … lo vegetarian? Kok gue baru tau? Bukannya lo paling suka makan bakso?”goda Dido ketika Lia baru aja masuk kelas.

Lia langsung melirik ke arah suara. ”Darimana dia tau …”

“Eh, bukan tau. Lia nggak vegetarian, tapi dia tuh alergi santen”teriak Eni.

“Alergi santen? Mana mungkin? Tiap pagi kan si Lia makan ketupat, minta kuahnya banyak lagi”celetuk Roni.
Kemudian temen-temen sekelas yang berjumlah sekitar 10 orang itu ketawa.

Lia memperhatikan seisi kelas, air matanya mulai menetes.”Ton, lo kok tega amat membeberkan hal ini ke semua orang? Apa lo benci banget sama gue?”

“Lho, Lia lo kenapa? Nenek lo meninggal?”Joni kembali memulai godaan.

Tawa dalam kelas kembali meledak.

“Eh, eh, pada diem dulu …” kata Seli menenangkan.

Anak-anak sekelas pun diam dan mendengarkan Seli.

“Dia bukan nangis gara-gara neneknya meninggal, tapi gara-gara ditolak Tony.” teriak Seli.

Air mata Lia makin deras, ia pun berlari keluar kelas. Di tengah-tengah emosinya yang memuncak, Lia berlari tanpa mengenal arah. Ia pun menabrak tubuh seseorang, yang ternyata adalah tubuh Tony.

Tony tersenyum.”Hi”

Lia segera memukul-mukul dada Tony. ”Ton, lo jahat! Lo jahat banget! Masa lo sebarin semua itu? Lo jahat! Jahat!! Kalo lo nggak suka gue, ya udah! Kalo lo benci gue, ya udah! Tapi kenapa lo harus mempermalukan gue kayak gitu? Lo jahat banget!”

Tony malah ketawa.”Lho, kok gue dibilang jahat sih? Gue kan cuma menceritakan kisah cinta kita sama temen-temen. Supaya mereka tau betapa romantisnya kisah cinta kita”

“Kisah cinta apaan?” teriak Lia. Ia pun makin keras memukul-mukul da.da Tony.

Tony tersenyum, kemudian memeluk Lia. Setelah Lia agak tenang, Tony mengusap air mata Lia.

“Oke, oke … gue minta maaf … gue janji gue nggak bakal melakukan hal ini lagi. Jadi …”

Lia mengusap-usap air matanya sampe bersih.”Jadi apa?”

“Jadi … sekarang kita udah jadian, khan?”Tony tersenyum.

“Jadian?”Lia kelihatan bingung.

“Ya iyalah! Seluruh sekolah udah tau kok kalo kita udah jadian”

“Tapi … tapi kemaren kan …”

“Oh, kemaren, ya? Kemaren kan gue cuma nyoba menyaingi akting lo. Lo ngerjain gue dua kali, gue ngerjain lo sekali. Cukup adil kan?”Tony ketawa.

Detik itu Lia baru sadar kalo dia udah dikerjain abis-abisan. Lia pun tersipu malu.”Ah, Tony jahat!”

“Siapa suruh lo ngerjain gue terus”sahut Tony.

Lia berubah menjadi serius.”Ton, gue janji nggak bakal bohongin lo lagi. Gue cuma akan berakting di atas panggung dan nggak bakal akting di depan lo lagi. Gue cuma akan jadi diri gue sendiri kalo di depan lo. Tapi lo juga harus janji, lo nggak boleh bales gue kayak gini lagi”

Tony tersenyum.”Oke, kalo gitu kita janjian …”

Tony mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Lia, kemudian mereka pun tersenyum.



Oleh : Unknown

Awan

“Pernahkah kau lihat awan berarak di atas sana? mereka selalu bersama-sama, saat mereka muncul, mereka bergumbul. saat mereka menghilang, mereka mengkerut hingga tak pernah bisa terlihat oleh mata.”

Meira diam. Kepalanya terus mendongak ke cakrawala. Deru angin berhembus di sekelilingnya, menerbangkan selendang tipis yang melilit di leher. Meira terus tersenyum, merentangkan tangannya menembus udara.

“Mereka selalu bersama-sama. Tak pernah sendirian, karena kalau mereka sendirian, mereka akan lenyap, melarut dalam udara.”

Meira tersenyum lagi. Langit sedang cerah, awan tampak bergumul di satu sudut cakrawala, berdampingan dengan rumput, terlihat jelas dari tempatnya berdiri.

“Awan… aku senang sekali melihatnya. Aku ingin seperti awan, aku ingin selalu melihat awan, aku ingin punya awan sendiri…”

tiba-tiba Meira berubah sendu. Tangannya turun, perlahan merapat ke badan. Matanya masih tetap memandang awan yang berarak, lama hingga ia tak sadar bahwa bentuk awan yang dilihatnya sudah berubah.

“Awan tidak selalu sama…” gumam Meira sedih, “Mereka terus berubah-ubah. Tak pernah mempunyai wajah yang sejati.”

Meira menggeleng, ia mulai meringis. Kedua tangannya makin merapat, memeluk tubuhnya sendiri.
Angin berhembus makin kencang, menggoyangkan karpet hijau ini, melepaskan aroma tanah yang harum bersama bau rumput yang lezat.

“Aku tak mau mereka berubah. Aku tak mau mereka pergi. Aku tak mau, aku mau mereka tetap menjadi mereka, aku mau mereka tetap menjadi awan yang berarak, kemana-mana selalu bersama. Dalam suka maupun sedih, selalu ada disisiku, bagai awan berdampingan dengan langit.”

Angin melolong, suaranya melengking tinggi. Meninggalkan rasa takut yang mencekam. Meira menggeleng, air mata mulai menitik dari matanya, mengalir panjang sampai dagu.

“Tidak! Tidak… aku tak mau.. aku tak mau… aku tak mau mereka pergi…”

angin makin ribut. Auranya berubah, terasa kontras dengan hijau berdamping biru ini. Makin lama, angin terus melolong, desingannya berubah jadi tawa panjang yang menghina, melumatkan rasa ambisi menjadi sepi yang meranggas.

“Aku tak mau sendiri…”
Meira terus meratap. Tangisnya makin keras, menggema di udara.

“Kau terlalu egois!” sebuah suara menggema dari udara, “Kau terlalu naïf. Kau.. kau tak bisa mengikat orang untuk selalu menjadi milikmu, kau tidak bisa memakunya dalam pasungan!”

meira menggeleng,

“Awan punya kebebbasan. Sama seperti kau, bebas memilih awan mana yang jadi pelindungmu. Mereka, punya kebebasan sendiri,”

“Tidak!” teriak Meira. air mata makin mengalir di kedua pelupuk matanya, “Tidak.. aku tak mau! Aku tak bisa. Aku tak mau. Jika mereka memang awanku, sampai kapanpun mereka akan tetap menjadi awanku!”

suara itu tertawa. Panjang dan mencemooh.
“Kalau begitu, kau tak akan pernah punya awan yang bermuka sejati! Karena awan, selamanya tak bermuka!”

Malam itu sepi
Malam itu gelap
Malam itu mencekam

tapi malam tak kesepian
ada bulan yang selalu menemaninya
ada bintang yang selalu membuatnya tersenyum

malam..
aku ingin seperti malam…


Oleh : Mocca_chi

Di Sebuah Jembatan Penyeberangan


Sorot matanya begitu membekukan hati. Eni begitu kasihan melihat orang di depannya. Kira-kira 100 meter dari hadapannya. Pada hari seterik ini, ia bertarung dengan sinar matahari yang membakar kulitnya yang memang telah hitam terbakar karena entah berapa lama ia telah menantang matahari seperti itu.
Eni terpaksa berhenti. Ia merogoh recehan yang berada dalam tas mungil yang berisi peralatan rias, satu buku resep makanan dan sebuah gantungan kunci bertuliskan Malaysia. Beberapa bulan yang lalu, Eni sempat merasakan tingginya menara KL atau twin towers yang terkenal di seluruh dunia dan berbelanja di mall-mall ternama di sana. Hanya dalam beberapa hari saja, Eni dapat mengucapkan beberapa kata Melayu Malaysia, salah satunya adalah awak yang berarti kamu.
Perjalanan Eni di Malaysia merupakan perjalanan kedinasan yang mengharuskan dirinya meninggalkan suami dan anaknya yang masih berumur 7 tahun.
“Mama, Rian minta oleh-oleh ya,” ucap Rian polos.
“Iya sayang, mama akan belikan kamu oleh-oleh. Tapi Rian janji ya nggak nakal. Harus nurut sama papa ya,” Eni sempat berpesan sebelum berangkat ke Malaysia.
Setelah seminggu di Malaysia, Eni merasakan perbedaan yang berarti antara Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia, semua serba teratur, disiplin dan penuh tanggung jawab, sementara di Indonesia, semua bertolak belakang dengan kondisi Malaysia.
Namun di Hatinya, timbul perasaan gundah. Bagaimanapun parah kondisi Indonesia, namun ia lahir dan besar di sini, Indonesia. Eni pun merasa bertanggung jawab atas semua yang pernah ia lakukan.
Eni terus mencari uang recehan yang tersembunyi di dalam tas mungilnya. Ia hanya mendapati sejumlah uang recehan. Ia menghitungnya pelan. Seratus, dua ratus, lima ratus dan seribu. Ya, uang recehannya kini berjumlah seribu. Ia melangkahkan kakinya ringan. Ia berniat tulus untuk memberi orang yang berada di sudut jembatan penyeberangan dengan uang recehannya tadi.
Beberapa meter lagi ia akan memberikan uang receh itu, tapi tiba-tiba dari arah yang berlawanan seseorang menyenggolnya. Uang recehan yang terkumpul kini bertebaran dimana-mana. Ia memunggutnya cepat. Tangannya mencari-cari uang recehan yang terakhir untuk mengenapkannya menjadi seribu rupiah. Tapi sayang Eni gagal mengenapkannya. Kini yang berada dalam gengamannya hanya berjumlah 900 rupiah. Eni tampak lesu dengan peristiwa tadi. Orang yang menabraknya hanya pergi meninggalkannya yang sedang mencari uang recehan. Tanpa minta maaf sedikit pun. Apakah ini watak orang Indonesia? Apakah ini watakku?
Dilihatnya orang yang berada di sudut jembatan penyeberangan. Orang itu tertunduk lesu. Dengan baju yang telah pudar warnanya dan celana yang kumal, ia masih bisa bertahan.
Eni berjalan mendekatinya tanpa ragu. Ia menaruh uang recehan berjumlah 900 rupiah itu kedalam gelas plastik berukuran kira-kira 250 ml air. Aku mengenalinya pasti, karena aku sering meminum air kemasan itu.
Orang itu tak bergeming dengan uang pemberianku. Ia hanya menunduk. Eni terpaku sejenak. Ia melanjutkan langkahnya tanpa berhenti memperhatikan orang itu. Dan kemudian Eni berlalu tanpa memperhatikan orang berpenampilan lesu.
Busway koridor Salemba UI penuh dengan penumpang yang menunggu bus berwarna silver atau merah. Hari senin seperti ini biasanya memang ramai. Apalagi setelah jam 3 yang merupakan jam pulang kantor. Beberapa orang nampak tidak sabar dengan kondisi yang makin panas. Tisu-tisu nampak bertebaran tak beraturan di lantai koridor Busway Salemba UI. Eni berusaha membuang tisu yang dipakainya ke dalam tempat sampah yang memang telah di sediakan.
Eni ingat kembali perjalanannya di Malaysia. Kendaraan bus seperti busway di Jakarta lebih tertata dengan rapi. Bahkan, KL telah memiliki beberapa rute monorail yang cepat dan efisien bagi kaum pekerja kantoran. Ia merindukan perjalanan itu.
Sebetulnya, busway di Jakarta tak jauh berbeda dengan bus yang ada di KL. Tapi, penguna jasa bus itu sadar bahwa menjaga kondisi yang nyaman adalah kewajiban sehingga nantinya mereka akan menikmatinya kembali. Salah satunya adalah menjaga kebersihan koridor.
Dalam perjalanannya ke rumah, ia hanya membayangkan kenangannya di Malaysia yang menarik perhatiannya. Hanya seminggu, ia berada disana, namun kenangan yang ia raih akan tetap berada di dalam hatinya. Kenangan berada di Malaysia.
Eni menghempaskan tubuhnya pada sofa putih dekat televisi. Rian mendekati Eni. Kali ini Rian mencoba memeluk Eni.
“Mama capek ya, Ma,” ujar Rian.
“Mama capek banget. Rian sayang udah makan?” kata Eni menjawabnya.
“Belum, Ma. Mau bareng sama mama makannya,” kata Rian lugu.
Eni memutar pandangannya ke arah meja makan yang telah tersedia makan siang. Di meja itu terdapat dua piring yang masih tertutup.
Eni dan Rian bergegas ke meja makan. Di sana nampak Yuni, pembantu setia Eni telah siap menata kembali meja makan yang telah lama ditinggalnya.
Rian makan dengan lahapnya, sementara Eni hanya makan sesuap demi sesuap saja melihat kelahapan Rian. Eni terlihat senang dengan kondisi seperti ini, artinya Rian akan semakin tumbuh dan tambah berat badan. Berat badan Rian kerap kali menjadi masalah. Semenjak lahir, Rian berbobot di bawah normal karena memang Rian lahir Caesar sebelum bulan kelahiran yang semula direncanakan. Kecemasan sebetulnya melanda Eni sejak kelahiran Rian. Namun, kini Rian tumbuh menjadi anak yang cerdas dengan berat yang normal seusianya.
“Ma, Rian udah selesai makan. Rian mau bobo dulu ya, Ma,” Pamit Rian menuju kamar tidurnya di sebelah ruang keluarga.
“Iya, selamat bobo ya sayang. Mimpiin mama ya,”
Pikiran Eni kembali melayang pada pemilik sorat mata yang redup dan tak bersemangat. Sepertinya orang itu tak memiliki harapan untuk hidup. Bahkan untuk sedetik saja.
Kalau saja Eni berada dalam hal yang sama dengan orang itu, pastilah ia akan bernasib sama. Eni merupakan anak pertama dari pengusaha pertambangan ternama di Indonesia. Bagianya, untuk hidup bermewahan adalah hal mudah. Tapi, Eni memutuskan untuk hidup bersama suami tanpa menerima anugerah harta melimpah dari keluarganya. Keluarganya pun berubah pikiran dan dalam sekejap saja keluarganya menjauhi Eni. Jangankan untuk menjenguk orangtuanya, untuk menelepon pun tak boleh. Eni pun terima semua perlakuan itu dengan sabar.
Baginya, kebahagian suami dan anaknya adalah yang utama. Tanpa mengesampingkan keluarga dan orangtuanya yang telah membesarkan dirinya.
Eni mendesah melihat foto dirinya bersama bapak dan Ibunya. Ia terlihat ceria, hanya saja ia tak dapat bertemu dengan orangtuanya kini. Tak terasa air matanya meleleh. Ia tak dapat membendungnya lagi. Ia sesungukan menangis di bantal putih pemberian mamanya sebelum melahirkan Rian.
***
Orang itu masih tertunduk lesu. Tiba-tiba dari arah yang tak jauh darinya terlihat wanita setengah baya berhenti mendadak. Ia sepertinya mencari sesuatu dalam tas kecilnya. Orang itu masih tertunduk. Dari tadi pagi, ia belum makan sebutir nasi pun. Jangankan untuk makan sebutir nasi, untuk meneguk segelas air pun ia tak dapat melakukannya.
Terlihat hanya beberapa uang recehan di gelas plastik. Mungkin hanya sekitar tiga ratus rupiah. Terik matahari terus menyengat badan orang itu. Badannya yang hitam, kini akan tambah lebih hitam legam. Tapi orang itu mencoba terus bertahan.
Orang itu melirik wanita setengah baya yang terlihat masih mencari sesuatu. Ia teringat masa lalu yang kini tergambar jelas. Tapi, mungkin ia salah melihat orang. Ia kembali tertunduk lesu.
Kini ia hanya tinggal menunggu nasib yang tak kunjung membaik. Ia sebetul terpaksa melakukan semuanya demi menyambung hidup. Ia mendiami sebuah gubuk kecil di daerah pinggiran terminal senen. Dalam gubuk itu ia harus berbagi dengan beberapa orang bernasib sama, bahkan ada yang lebih menderita darinya karena terpaksa harus merelakan dirinya berjalan dengan satu kaki.
Orang itu mendesah ringan. Ia masih menunduk. Sementara wanita setengah baya itu terhenti beberapa meter dihadapanya. Kemudian secara cepat datanglah seorang yang menabrak wanita itu dan recehan yang berada di tangan bertebaran dimana-mana. Wanita setengah baya itu bergeges memunggut kembali uang recehan.
Orang itu merasa kasihan, ia ingin menolong wanita itu. Tapi apa daya, apa jadinya bila ia menolong. Bukan terima kasih yang ia dapatkan namun mungking sebuah omelan dan pukulan karena telah menganggu wanita itu.
Wanita itu tampak kesal, ia kemudian menghitung kembali uang recehan itu. Namapaknya ada yang kurang dari uang recehannya karena ia berulang kali ia menghitungnya.
Kemudian ia mendekati orang itu dan menaruh uang recehan. Wanita itu terus memperhatikan orang yang berada di sudut jembatan penyeberangan. Dan kemudian berlalu.
Orang itu hanya dapat mendesah panjang. Ia tak dapat mengucapkan terima kasih pada wanita tengah baya itu. Ia mengucapkan syukur pada Tuhan. Ia bersujud sejenak. ia mengucapkan sesuatu yang lirih dan tak terdengar.
Mungkin inilah caranya untuk bersyukur di tengah kondisi Jakarta yang terlihat terik dan panas menyengat.
Setelah lama ia terduduk, ia kemudian bangkit dan meninggalkan sudut itu. Ia berjalan tergopoh tak seimbang. Ia mencoba bertahan dengan kondisinya. Di gengamnya uang hasil belas kasihan orang. Ia sebetulnya tak mau merepotkan orang yang lalu lalang di jembatan penyeberangan itu. Tapi, apakah yang harus dilakukan dengan kondisi yang makin memburuk?
Ia berjalan dengan tegap karena perutnya telah terisi makanan yang di belinya di pinggir jalan. Ia kembali ke gubuk kecil yang cukup pengap. Hanya ada beberapa orang yang telah terlelap. Ia merebahkan tubuh kurusnya ke atas tanah yang beralaskan karton bekas bungkus mie instan.
Ia tampak menikmati hangatnya alas karton. Kemudian diambilnya sebuah foto usang yang masih dapat ia lihat. Tampak empat orang yang tersenyum gembira. Ia merebahkan kembali tubuhnya. Tak terasa air matanya mengalir ke bawah hidungnya. Ia menangis.
Tangisannya tak terdengar oleh teman-temannya yang terlelap. Ia segera menyeka air matanya. Ia hanya dapat meratapi kondisinya yang memburuk. Sebetulnya nasib buruk yang membawanya kini hidup seperti ini.
Orang tuanya memiliki segudang perusahaan ternama. Ia mengelola sebagian perusahaan. Namun, semenjak kondisi Indonesia yang gonjang ganjing pada pertengahan 1997, perusahaan yang dikelolanya berangsur-angsur jatuh bangkrut.
Kondisi tersebut di perparah dengan perginya adik perempuannya yang menikah dengan seorang pengusaha kecil. Setahun setelah kepergian adiknya, mendadak bapaknya meninggal dan 2 tahun yang lalu ibunya menyusul bapaknya.
Kondisi perusahaan yang bangkrut menjadikan dirinya merasa kehilangan muka dan harga diri. Ia kemudian menjual semua aset perusahaan dan membayar semua hutang. Dan tinggallah kini ia meratapi nasib yang kini menderanya.
Ia mendesah, hatinya terasa sesak dan air matinya kini sudah mengering. Ia terus bersyukur. Dalam batinnya kini yang ada rasa syukur karena ia masih selamat dan masih memiliki dirinya yang utuh. Walaupun kini ia harus mengadu nasibnya dengan meminta-minta.
Ia mencoba memejamkan matanya yang kembali basah dengan air matanya. Ia kini benar-benar terlelap sambil memegang foto yang sudah usang.
***
“Bu Ira, saya duluan ya,” Eni bergegas pulang.
“Iya bu Eni. Hati-hati di jalan ya,” jawab bu Ira.
Eni tampak bergegas keluar dari kantonya yang berada di jalan Salemba. Ia berjalan menuju jembatan penyeberangan menuju ke koridor busway.
Ia melangkahkan kaki dengan ringan. Ia mengamati sudut jembatan penyeberangan. Ia tak mendapati lelaki agak tua yang kemarin ia temui. Sebetulnya ia ingin menolongnya dan memeberinya sebungkus nasi yang sengaja ia beli.
Eni penasaran dengan orang itu. Dalam hatinya, ia merasakan getaran kuat. Sepertinya ia mengenal orang itu, tapi bukankah orang tua dan kakaknya tinggal di Pondok Indah.
Sementara itu, di sebuah gubuk kecil beberapa orang terlihat sedih. Mereka mendapati temannya yang meninggal. Dari jenazah itu tercium bau harum dan wajahnya terlihat cerah bersinar, sementara di tangannya terdapat foto empat orang yang tersenyum bahagia.

Oleh : Januaribiroe

03 Juli 2009

Drama Jalanan

Aku menghentikan motorku di pinggir jalan, tepat di depan rumah Gimbal, sobat karibku. Rumah Gimbal... sebenarnya tidak tepat juga kalau dikatakan begitu. Rumah itu dikontrakkan sebenarnya, milik salah satu saudara jauh sobatku itu. Namun, berhubung sampai sekarang belom juga ada yang mau mengontrak di situ, Gimbal kebagian jatah menjaga dan merawatnya. Yang untung jelas aku dan teman-temanku yang lain, dapet tempat nongkrong gratis yang bisa dipakai tanpa sungkan, hehehehe...

“Tut, baru dateng lo?” Gimbal menyapaku. Ia tadi sedang asyik mencuci vespa antiknya. Oh ya. Namaku Kresna, tapi entah kenapa teman-temanku lebih suka memanggilku Itut.

“Ya lah. Ga ada acara ini,” jawabku santai tanpa turun dari motor. Nasib cowok-cowok perserikatan KTS macam kami ya kayak gini, malem minggu ga ada acara. Menyedihkan. Oh, kalau kalian belom tahu, KTS itu singkatan dari Kasih Tak Sampai... jomblo maksudnya.

“Ga ada acara pala lo peyang,” Gimbal langsung berkata, sambil melempar lap motornya sembarangan ke dalam rumah. “Lo lupa ni hari tanggal berapa? Ada yang ulang taun hari ini, tau. Makan kenyang nih kita.”

“Sapa yang ulang taon? Emang ada pa?” Aku mengerutkan kening, mengingat-ingat. Terbayang wajahku cewek kecil yang cerewet dan ceria. “Jah, iya. Chica yah?”

“Itu inget lo,” sahut Gimbal sambil mengikat rambut gondrong keritingnya. Mentang-mentang kuliah jurusan seni, ga pernah potong rambut dia.

“Tunggu apa lagi Mbal? Ayo kesana!” Aku mengajak antusias. Ini memang kerjaan cowok-cowok jomblo kayak kami. Inget-inget ulang tahun temen, samperin... paksa deh nraktir makan.

“Bentar, nunggu Kosa. Tu anak mau kesini bentar lagi. Tadi telpun dia,” jawab Gimbal kalem, lalu cuek saja masuk ke dalam rumah tak mempedulikanku.

Ditinggal gitu, aku menghabiskan waktu dengan memikirkan panggilan kami. Aneh-aneh sebenernya kalau dipikir. Haryanto jadi Gimbal, karena rambut gondrongnya yang keriting. Kresna dipanggil Itut, nggak tahu kenapa. Perkasa dipanggil Kosa, karena...

Teeettt...! Suara terompet mengganggu konsentrasiku. Aku berpaling dan melihat dia, si Kosa datang mendekat, mengayuh santai sepeda antik yang dipasangin trompet buat belnya, memboncengkan Birbin.

“Ke tempat Chica sekarang, Sa?” Aku menyapa dengan pertanyaan, langsung ke pokok permasalahan.

“Percuma,” dia menjawab kesal, menghentikan sepeda tanpa rem itu dengan kakinya yang bersendal jepit. Birbin langsung cepat meloncat turun. “Ada yang mendahului kita tuh. Si Cacing ama si manusia tanpa ekspresi tuh. Udah pergi Chicanya sama mereka. Lewat rumahnya tadi kita bedua.”

“Sialan!” Aku memaki spontan. Yang disebut Cacing itu nama aslinya Ari. Karena badannya kurus kering kayak cacing, jadi deh panggilannya Ari Cacing. Manusia tanpa ekspresi itu Nova, anak kampung sebelah yang suka main kesini. Bukan tanpa ekspresi sih sebenarnya, cuma ekspresinya aneh bin ajaib. Ketawa kayak kebelet pipis, marah kayak orang malu, malu kayak pengen ketawa... aneh pokoknya.

“Yo, Sa!” Gimbal menyapa. Ia keluar rumah dengan lenggang santai. Ia ganti pakaian, tapi menurutku sih mendingan yang tadi. Sekarang, pake celana jins robek-robek, jaket jins robek-robek juga. Mending tadi, kaos oblong ma celana pendek, paling nggak utuh dua-duanya, nggak ada yang robek.

“Halo semua!” Belum sempat Kosa membalas, terdengar sapaan dari pengendara motor yang berhenti di dekat kami.

“Mo pada ke tempat Chica yah? Ikut dong. Laper nih gua!” Orang itu melepas helmnya. Ternyata itu Zhito, anggota geng kami juga.

“Telat!” gerutu Birbin. “Dah pergi dia ama Cacing ma Nova.”

“Yah, sialan tuh anak bedua,” Zhito memaki kesal. “Hajar aja yuk!” lanjutnya, becanda maksudnya.

“Oi... Oi...! Berantem ama temen ga baek tahu...,” cegah Gimbal. Tapi dari cara senyumnya aku tahu kalau ia pasti merencanakan skenario sesat lagi.

“... kalo tanpa rencana,” lanjut Gimbal. Nah, benar kan. Aku langsung bisa menebak rencana kacau mahasiswa gondrong itu.

“Sini...” Gimbal menggerakkan tangannya memanggil lalu membisikkan skenario drama di benaknya. Benar seperti dugaanku, kacau dan sesat abis. Zhito dan Kosa nampak mengangguk-angguk bersemangat.

“Oke deh,” Zhito berseru penuh semangat. “Gua pergi dulu, cari benda yang bakalan bikin tambah ancur-ancuran ntar.” Ia langsung naik dan memacu motornya tanpa menunggu tanggapan kami.

“Bantu gua ntar Bin,” kata Kosa dengan seringai liar. Sementara Gimbal kembali melenggang masuk rumah, bersiap buat rencana gilanya.

OooOOooO

Hari sudah semakin malam. Sudah jam sembilan lewat, jauh lewatnya... Tempat Gimbal ini sudah semakin rame saja. Mereka yang habis apel sama mereka yang tadi jalan-jalan ke mall, pada berkumpul di sini; pada nongkrong di luar semua nyanyi sambil maen gitar, nggak ada yang masuk dalam rumah. Hampir semuanya cowok. Pas banget buat rencananya si gondrong.

Masalahnya, disini ada satu cewek... Menil, adiknya Gimbal, dan dua orang tua... bapakku dan ayahnya Gimbal, yang baru pulang dari latihan badminton.

Kosa mendekati Gimbal, dengan ragu bertanya pelan apa rencananya jadi dijalankan. Gimbal mengangguk dengan mantap, sangat yakin tampaknya dia. Selain kami berempat, dan Zhito yang entah kenapa belum balik sekarang, yang lain tak ada yang tahu rencana kami.

Lalu, yang kami tunggu pun datang juga. Nova yang memboncengkan Chica, dan Cacing yang memboncengkan cewek berambut panjang, teman Chica. Kedua cowok itu menghentikan motornya di dekat kami dan turun dengan lagak bangga. Aku agak kesal juga melihatnya.

Lalu Kosapun, yang tampangnya dari tadi sudah makin kusut saja, beraksi. Ia cepat mendekati dan mencengkeram kerah leher Cacing dan mendekatkan wajah dengan tampang merah mengancam, penuh emosi.

“Apa maumu sebenarnya hah?! Lo pikir lo siapa... Lo pikir gua nggak bisa marah!” Kosa menggeram.

“Oi... Oi...! Apa-apaan nih Sa? Jangan becanda ah,” kata Cacing menenangkan. Tapi mukanya kelihatan pucat. Wajar saja, diancam cowok kekar macam Kosa. Aku aja, yang lebih gede badannya dari Cacing, ogah cari perkara sama dia.

“Apa-apaan?! Lo nggak nyandar kelakuan lo!” Kosa menggeram keras, serem deh.

“Lo juga! Ngapain cengar-cengir! Nggak sadar salah lo juga?!” Ia juga membentak Nova, yang langsung mengkeret takut.

“Sabar Sa!” Aan, kakak Birbin yang baru saja datang dari apelnya, mencoba menengahi.

“Jangan ikut campur!” Kosa membentaknya.

“Iya An, biarin aja,” Birbin ngomporin. “Tu anak berdua emang perlu dikasih pelajaran.”

“Sa! Masa gitu aja marah Sa? Aku ngapain Sa?” Cacing memohon. Ia masih dicengkeram kerahnya sama Kosa.

“Hajar aja Sa!” Birbin buka mulut memanaskan suasana.

“Hush!” Kusno, salah seorang dari kami yang berada disitu, langsung menegurnya. “Jangan berantem lah. Ada orang tua disini, ga malu?”

“Trus mereka didiemin saja?” Kosa meraung emosi, mencengkeram kerah Cacing lebih kuat. “Kagak bisa!”

“Kalian berdua ini... Sabar! Bicarain baek-baek di dalem sana deh.” Gimbal memeluk dan setengah menyeret Kosa dan Cacing ke dalam rumahnya, menepuk pundak Kosa, seolah mencoba meredakan emosinya... kalau diliat mereka yang nggak tahu.

Tak lama, Gimbal melenggang keluar dengan tenang. Suasana dalam rumah tampak tenang-tenang saja. Semua yang ada disitu nampak agak lega, tapi...

Blaannggg...!

Terdengar suara keras benda dibanting dari dalam, diikuti teriakan panik Cacing, “Saaa...! Jangan Sa...!”
Gimbal langsung berbalik dan berlari masuk rumah, diikuti teman-temanku yang lain. Aku siap beranjak mengikuti mereka ketika...

Rruunggggg...!

Terdengar suara motor meraung keras. Zhito datang mengendarai motornya, menyeret tonggak kayu besar yang kelihatannya adalah bekas papan penunjuk nama jalan. Busyet! Mau apa dia mencabut papan nama jalan seenak perutnya?

“NOVA! Sini lo!” Zhito membentak keras sambil mendelik marah, menghentikan motor di tengah jalan, dan turun sambil menyeret tonggak kayunya. Busyet! Ini sih kebangetan...

Nova langsung mengkeret ketakutan. “To...! Jangan To! Emang... emang aku ngapain To?” Ia memohon sambil melangkah mundur, menjauh. Takut. Siapa yang nggak takut? Dideketin cowok kalap yang menyeret kayu segede itu.

Aku segera berlari mendekati Zhito dan menahannya. “Sabar... Sabar To! Jangan pake itu dong. Ada masalah kan bisa diseleseiin baek-baek. Sabar!”

“Nggak pake sabar-sabaran!” Zhito membentak dan menyingkirkan tanganku.

Sempat kudengar di dalam rumah, Kosa juga meraung, “Sini lo, SETAN!”

Suasana terasa panas sekali... sesaat... tapi langsung berubah begitu terdengar suara Birbin cekikikan, tak kuat menahan ketawa.

Zhito melepaskan tonggak kayu yang diseretnya dan mulai ikut ketawa sampai terbungkuk-bungkuk.
Pintu rumah terbuka dan Kosa keluar sambil ketawa ngakak juga. Gimbal dibelakangnya nyengir sangat lebar. Aku... aku juga terbungkuk-bungkuk menahan tawaku.

Teman-temanku yang lain, cowok juga cewek, juga bapakku dan ayah Gimbal, memandang kami sambil melongo tak mengerti. Aku tertawa semakin keras.

“Drama duel babak pertama selesai,” Gimbal berkata kalem.


Oleh : Unknown