03 Juli 2009

Drama Jalanan

Aku menghentikan motorku di pinggir jalan, tepat di depan rumah Gimbal, sobat karibku. Rumah Gimbal... sebenarnya tidak tepat juga kalau dikatakan begitu. Rumah itu dikontrakkan sebenarnya, milik salah satu saudara jauh sobatku itu. Namun, berhubung sampai sekarang belom juga ada yang mau mengontrak di situ, Gimbal kebagian jatah menjaga dan merawatnya. Yang untung jelas aku dan teman-temanku yang lain, dapet tempat nongkrong gratis yang bisa dipakai tanpa sungkan, hehehehe...

“Tut, baru dateng lo?” Gimbal menyapaku. Ia tadi sedang asyik mencuci vespa antiknya. Oh ya. Namaku Kresna, tapi entah kenapa teman-temanku lebih suka memanggilku Itut.

“Ya lah. Ga ada acara ini,” jawabku santai tanpa turun dari motor. Nasib cowok-cowok perserikatan KTS macam kami ya kayak gini, malem minggu ga ada acara. Menyedihkan. Oh, kalau kalian belom tahu, KTS itu singkatan dari Kasih Tak Sampai... jomblo maksudnya.

“Ga ada acara pala lo peyang,” Gimbal langsung berkata, sambil melempar lap motornya sembarangan ke dalam rumah. “Lo lupa ni hari tanggal berapa? Ada yang ulang taun hari ini, tau. Makan kenyang nih kita.”

“Sapa yang ulang taon? Emang ada pa?” Aku mengerutkan kening, mengingat-ingat. Terbayang wajahku cewek kecil yang cerewet dan ceria. “Jah, iya. Chica yah?”

“Itu inget lo,” sahut Gimbal sambil mengikat rambut gondrong keritingnya. Mentang-mentang kuliah jurusan seni, ga pernah potong rambut dia.

“Tunggu apa lagi Mbal? Ayo kesana!” Aku mengajak antusias. Ini memang kerjaan cowok-cowok jomblo kayak kami. Inget-inget ulang tahun temen, samperin... paksa deh nraktir makan.

“Bentar, nunggu Kosa. Tu anak mau kesini bentar lagi. Tadi telpun dia,” jawab Gimbal kalem, lalu cuek saja masuk ke dalam rumah tak mempedulikanku.

Ditinggal gitu, aku menghabiskan waktu dengan memikirkan panggilan kami. Aneh-aneh sebenernya kalau dipikir. Haryanto jadi Gimbal, karena rambut gondrongnya yang keriting. Kresna dipanggil Itut, nggak tahu kenapa. Perkasa dipanggil Kosa, karena...

Teeettt...! Suara terompet mengganggu konsentrasiku. Aku berpaling dan melihat dia, si Kosa datang mendekat, mengayuh santai sepeda antik yang dipasangin trompet buat belnya, memboncengkan Birbin.

“Ke tempat Chica sekarang, Sa?” Aku menyapa dengan pertanyaan, langsung ke pokok permasalahan.

“Percuma,” dia menjawab kesal, menghentikan sepeda tanpa rem itu dengan kakinya yang bersendal jepit. Birbin langsung cepat meloncat turun. “Ada yang mendahului kita tuh. Si Cacing ama si manusia tanpa ekspresi tuh. Udah pergi Chicanya sama mereka. Lewat rumahnya tadi kita bedua.”

“Sialan!” Aku memaki spontan. Yang disebut Cacing itu nama aslinya Ari. Karena badannya kurus kering kayak cacing, jadi deh panggilannya Ari Cacing. Manusia tanpa ekspresi itu Nova, anak kampung sebelah yang suka main kesini. Bukan tanpa ekspresi sih sebenarnya, cuma ekspresinya aneh bin ajaib. Ketawa kayak kebelet pipis, marah kayak orang malu, malu kayak pengen ketawa... aneh pokoknya.

“Yo, Sa!” Gimbal menyapa. Ia keluar rumah dengan lenggang santai. Ia ganti pakaian, tapi menurutku sih mendingan yang tadi. Sekarang, pake celana jins robek-robek, jaket jins robek-robek juga. Mending tadi, kaos oblong ma celana pendek, paling nggak utuh dua-duanya, nggak ada yang robek.

“Halo semua!” Belum sempat Kosa membalas, terdengar sapaan dari pengendara motor yang berhenti di dekat kami.

“Mo pada ke tempat Chica yah? Ikut dong. Laper nih gua!” Orang itu melepas helmnya. Ternyata itu Zhito, anggota geng kami juga.

“Telat!” gerutu Birbin. “Dah pergi dia ama Cacing ma Nova.”

“Yah, sialan tuh anak bedua,” Zhito memaki kesal. “Hajar aja yuk!” lanjutnya, becanda maksudnya.

“Oi... Oi...! Berantem ama temen ga baek tahu...,” cegah Gimbal. Tapi dari cara senyumnya aku tahu kalau ia pasti merencanakan skenario sesat lagi.

“... kalo tanpa rencana,” lanjut Gimbal. Nah, benar kan. Aku langsung bisa menebak rencana kacau mahasiswa gondrong itu.

“Sini...” Gimbal menggerakkan tangannya memanggil lalu membisikkan skenario drama di benaknya. Benar seperti dugaanku, kacau dan sesat abis. Zhito dan Kosa nampak mengangguk-angguk bersemangat.

“Oke deh,” Zhito berseru penuh semangat. “Gua pergi dulu, cari benda yang bakalan bikin tambah ancur-ancuran ntar.” Ia langsung naik dan memacu motornya tanpa menunggu tanggapan kami.

“Bantu gua ntar Bin,” kata Kosa dengan seringai liar. Sementara Gimbal kembali melenggang masuk rumah, bersiap buat rencana gilanya.

OooOOooO

Hari sudah semakin malam. Sudah jam sembilan lewat, jauh lewatnya... Tempat Gimbal ini sudah semakin rame saja. Mereka yang habis apel sama mereka yang tadi jalan-jalan ke mall, pada berkumpul di sini; pada nongkrong di luar semua nyanyi sambil maen gitar, nggak ada yang masuk dalam rumah. Hampir semuanya cowok. Pas banget buat rencananya si gondrong.

Masalahnya, disini ada satu cewek... Menil, adiknya Gimbal, dan dua orang tua... bapakku dan ayahnya Gimbal, yang baru pulang dari latihan badminton.

Kosa mendekati Gimbal, dengan ragu bertanya pelan apa rencananya jadi dijalankan. Gimbal mengangguk dengan mantap, sangat yakin tampaknya dia. Selain kami berempat, dan Zhito yang entah kenapa belum balik sekarang, yang lain tak ada yang tahu rencana kami.

Lalu, yang kami tunggu pun datang juga. Nova yang memboncengkan Chica, dan Cacing yang memboncengkan cewek berambut panjang, teman Chica. Kedua cowok itu menghentikan motornya di dekat kami dan turun dengan lagak bangga. Aku agak kesal juga melihatnya.

Lalu Kosapun, yang tampangnya dari tadi sudah makin kusut saja, beraksi. Ia cepat mendekati dan mencengkeram kerah leher Cacing dan mendekatkan wajah dengan tampang merah mengancam, penuh emosi.

“Apa maumu sebenarnya hah?! Lo pikir lo siapa... Lo pikir gua nggak bisa marah!” Kosa menggeram.

“Oi... Oi...! Apa-apaan nih Sa? Jangan becanda ah,” kata Cacing menenangkan. Tapi mukanya kelihatan pucat. Wajar saja, diancam cowok kekar macam Kosa. Aku aja, yang lebih gede badannya dari Cacing, ogah cari perkara sama dia.

“Apa-apaan?! Lo nggak nyandar kelakuan lo!” Kosa menggeram keras, serem deh.

“Lo juga! Ngapain cengar-cengir! Nggak sadar salah lo juga?!” Ia juga membentak Nova, yang langsung mengkeret takut.

“Sabar Sa!” Aan, kakak Birbin yang baru saja datang dari apelnya, mencoba menengahi.

“Jangan ikut campur!” Kosa membentaknya.

“Iya An, biarin aja,” Birbin ngomporin. “Tu anak berdua emang perlu dikasih pelajaran.”

“Sa! Masa gitu aja marah Sa? Aku ngapain Sa?” Cacing memohon. Ia masih dicengkeram kerahnya sama Kosa.

“Hajar aja Sa!” Birbin buka mulut memanaskan suasana.

“Hush!” Kusno, salah seorang dari kami yang berada disitu, langsung menegurnya. “Jangan berantem lah. Ada orang tua disini, ga malu?”

“Trus mereka didiemin saja?” Kosa meraung emosi, mencengkeram kerah Cacing lebih kuat. “Kagak bisa!”

“Kalian berdua ini... Sabar! Bicarain baek-baek di dalem sana deh.” Gimbal memeluk dan setengah menyeret Kosa dan Cacing ke dalam rumahnya, menepuk pundak Kosa, seolah mencoba meredakan emosinya... kalau diliat mereka yang nggak tahu.

Tak lama, Gimbal melenggang keluar dengan tenang. Suasana dalam rumah tampak tenang-tenang saja. Semua yang ada disitu nampak agak lega, tapi...

Blaannggg...!

Terdengar suara keras benda dibanting dari dalam, diikuti teriakan panik Cacing, “Saaa...! Jangan Sa...!”
Gimbal langsung berbalik dan berlari masuk rumah, diikuti teman-temanku yang lain. Aku siap beranjak mengikuti mereka ketika...

Rruunggggg...!

Terdengar suara motor meraung keras. Zhito datang mengendarai motornya, menyeret tonggak kayu besar yang kelihatannya adalah bekas papan penunjuk nama jalan. Busyet! Mau apa dia mencabut papan nama jalan seenak perutnya?

“NOVA! Sini lo!” Zhito membentak keras sambil mendelik marah, menghentikan motor di tengah jalan, dan turun sambil menyeret tonggak kayunya. Busyet! Ini sih kebangetan...

Nova langsung mengkeret ketakutan. “To...! Jangan To! Emang... emang aku ngapain To?” Ia memohon sambil melangkah mundur, menjauh. Takut. Siapa yang nggak takut? Dideketin cowok kalap yang menyeret kayu segede itu.

Aku segera berlari mendekati Zhito dan menahannya. “Sabar... Sabar To! Jangan pake itu dong. Ada masalah kan bisa diseleseiin baek-baek. Sabar!”

“Nggak pake sabar-sabaran!” Zhito membentak dan menyingkirkan tanganku.

Sempat kudengar di dalam rumah, Kosa juga meraung, “Sini lo, SETAN!”

Suasana terasa panas sekali... sesaat... tapi langsung berubah begitu terdengar suara Birbin cekikikan, tak kuat menahan ketawa.

Zhito melepaskan tonggak kayu yang diseretnya dan mulai ikut ketawa sampai terbungkuk-bungkuk.
Pintu rumah terbuka dan Kosa keluar sambil ketawa ngakak juga. Gimbal dibelakangnya nyengir sangat lebar. Aku... aku juga terbungkuk-bungkuk menahan tawaku.

Teman-temanku yang lain, cowok juga cewek, juga bapakku dan ayah Gimbal, memandang kami sambil melongo tak mengerti. Aku tertawa semakin keras.

“Drama duel babak pertama selesai,” Gimbal berkata kalem.


Oleh : Unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamu bisa memberikan masukan, kritik dan saran untuk entry cerpen ini. Kata-kata kalian sangat membantu. Terima Kasih...