Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

20 Oktober 2009

Indigo


Tadi Eleanor bilang suka padaku. Aku belum jawab. Sebagai cewek, jual mahal itu penting. Tapi bagi Sisi, kembaranku satu itu, dia bilang aku bodoh.

“Itu namanya mainin perasaan!” katanya. Hah, Sisi salah besar, aku cuma mo ngetes, Eleanor benar-benar serius atau justru dia yang main-main. Kalo digantung satu dua hari aja nyerah, jangan berani nembak Sashi! Lagian, aku bukan perempuan yang gampang ambil keputusan. Apalagi masalah cinta, harus dipikir masak-masak dulu baru aku berani buka mulut.

Malam ini, kuputuskan jalan-jalan keluar, keliling kompleks sambil cari angin sepoi-sepoi. Jauh-jauh dari Sisi. Suasana amat mencekam gelap-gelap begini. Hanya terdengar gonggongan anjing dan jangkrik mengerik. Jalanan sesepi desa habis kena banjir, belum lagi lampu merkuri di sepanjang trotoar kedap-kedip melulu pertanda mau padam, disertai hujan gerimis. Meski begitu, di ujung blok sana, ada kafe tenda superramai. Aku mutusin berteduh di salah satu stand, memesan seporsi bakso spesial dan mengambil tempat di meja pojokan. Jernihnya kuah bakso bikin lidahku bergoyang tak sabar, sampai…

“Misi, boleh gabung?” suara nge-bass cowok bergaung di belakang telingaku. “Meja lain penuh.”
Aku memutar bola mata ke seantero tenda untuk memastikan bahwa cowok itu gak bohong. Dengan terpaksa, aku mengangguk. “Ya deh.”

“Trims,” sahutnya manis. Senyum simpulnya terkembang sempurna. Kalau kuperhatikan, umurnya belum 18 tahun. “Sering makan di sini?” tanyanya seraya menggulung mi.
“Baru sekali. Napa?”
“Punya masalah, kan?” tebaknya sok tahu.
“Gak.”
“Masa? Biasanya tipe-tipe kamu, datang ke sini karena bingung mikir cinta,” ujarnya datar.
Lho, memang tadi aku cerita sedang menggantung cinta cowok bernama Eleanor? “Kok tahu?”
“He he,” ia nyengir. “Betul kan? Aku suka kamu ngegantung dia, dia rese.”
“Kamu siapanya Eleanor?”
“Kenalin, Kaemon.”
Buset, it, itu nama orang? Bukan tokoh kartun Jepang? “Kamu mata-matanya Eleanor?”
“I’m not,” Kaemon melirik ke kanan, kemudian mencondongkan badannya mendekati wajahku. Ya Tuhan! Dia mau apa? Jangan sampai Kaemon berbuat macam-macam! Aku merem ketakutan, khawatir kalau cowok ini menubrukkan bibirnya ke bibirku trus…

Salah. Rupanya ia merapatkan jaketku yang melorot sehingga tank-top ini terlihat jelas. “Ati-ati, ada pria rada mesum di arah jam dua,” bisiknya.
“Mesum?” Aku menekuri arah tatapan Kaemon. Mesum dari mana? “Dia pake kemeja, necis, sepatu pantofel, celana lurus dan berpeci. Gak keliatan hidung…”
“Cintakuuu, minta Cola satu dong,” tanpa kuduga, pria tersebut gelayutan mesra pada seorang waitress. Demi Tuhan, nggak nyangka!
Kaemon menahan tawa. “Tuh kaaan.”

***

Aku tatap secarik kertas. Hasil ulangan trigonometri minggu lalu. Nggak tahu deh, waktu itu Bu Reni kerasukan apa, tapi sebelum diajarkan, kami malah tes trigonometri mendadak. Siaaall!

Yang pasti, ada angka 100 warna merah terpampang besar-besar di atas kertas ulanganku. Anak-anak lain, termasuk Sisi yang melirik kertas ulanganku, terkejut bukan main. Aku aja shock, apalagi mereka?
Pulang sekolah, aku dapat kejutan satu lagi. Bukan nilai matematikaku, tapi soal Eleanor. Kemarin dia menembakku, now, kayaknya doi lupa dan malah asyik belajar teori atom Dalton bareng cewek adik kelas. Kaemon betul, Eleanor brengsek!

***

Memasuki teras, suasana rumahku lebih pikuk dari biasanya. Tanteku satu-satunya datang dari Jogja. Kusambut tubuh Tante Nia yang duduk di ruang tamu. Sudah bertahun-tahun kami tak jumpa.
“Gimana? Masih suka liat yang serem-serem?” tanya beliau.
Dahiku berkerut. “Serem?”

“Loh, waktu kecil kan kamu hobi liat begituan. Yang ada anak kecil-lah, hantu itu-lah…”
Masa? Kok gak ingat ya? “Nggak tuh. Ngomong-ngomong, itu apa?” aku menunjuk buku besar yang digenggam Tante Nia.
“Album fotomu. Eh, foto-foto ini beneran?”
“Kenapa?”
“Nih, liat. Kata mamamu, kamu masih tiga bulan, kok bisa pegang botol susu sendiri?”
“Salah ya?”

“Ya salah. Masa masih delapan bulan bisa ngomong, trus satu tahun nyanyi lagunya Chrisye udah kenceng banget, lagi!” Tante Nia menyodorkan fotoku tengah memegang mike.
“Owh, biasaaa,” penyakit narsisku keluar. “Tante juga, tumben ke sini?”
“Cuti sebentar, mau bikin skripsi.”
“Tentang?”
“Biasa, anak hukum kerjaannya ngutak-atik hukum pidana melulu,” Tante Nia menyandarkan kepala di sofa.
“Tentang KUHAP gitu?”
“Yoi.”

“Padahal kalau aku disuruh milih, lebih seneng hukum pidana daripada perdata atau hukum adat. Susah ngapalin UU, belum lagi ada versi Belanda-nya,” ceritaku.
Awalnya Tante Nia terperangah heran, tapi lama-lama ia mulai menikmati perbincangan. “Iya, apalagi kalau sudah sampai hukum dagang, kan bakalan dibagi-bagi lagi tuh…” dan kami terhanyut dalam dialog panjang sepanjang siang.

***

“Nevermind,” jawab Kaemon gembira setelah aku cerita soal Eleanor. “Insting pria jitu, kan!” godanya. “Malah besok-besok lebih banyak Eleanor-Eleanor lain bakal ngejar kamu.”
“Makan tuh insting!”

“Gini-gini IQ-ku 180 lho!” Kaemon membela diri.
“Oh,” aku melirik ke samping kiri dan kananku. “Kayaknya kita diperhatiin orang-orang,” bisikku.
“Tauk ah,” Kaemon cemberut mendengar ketidakpedulianku. “Ambilin botol kecap dong, deket kamu tuh,” menggerutu ia.
“Ntar, baksonya enak loh!” aku sibuk meniup-niup kepulan asap kuah bakso.
“Aku makannya kapan ni?”

Aku taruh sendok lalu memandang botol kecap di sampingku dengan tajam. Jaraknya sekitar 40 senti tepat di sudut meja. Andai aku punya kemampuan telekinetik, sehingga dengan kekuatan pikiran, botol itu bisa bergeser dan berpindah ke tangan Kaemon. Aku menyipitkan mata, tapi ah, percuma! Khayalanku mengada-ada. Aku memutar bola mata kembali ke mangkok bakso, akan tetapi, WUSH! Tiba-tiba botol itu jatuh ke depan. Untung Kaemon sigap menangkap. “Ada yang usil nih.”
“Siapa?”

Kaemon langsung komen sambil mengelus-elus dagunya bahwa kami baru saja dikerjain hantu. Huh, mana percaya!

***

Ino membawa setangkai mawar lalu bilang suka padaku. Waks, ini rekor! Bayangin, baru tadi pagi, Adi, sang Ketua OSIS menembakku. Belum lagi masuknya segepok surat ke lokerku minggu-minggu ini, ditambah belasan SMS yang rata-rata berisi ajakan makan siang atau cuma say hi doang.

Asyik, tapi yang mengganjal pikiranku bukan itu. Ada hal penting dan harus kubicarakan dengan Sisi. “Cowok aneh?” ulang Sisi setelah kuceritakan tentang Kaemon. Cowok itu benar-benar meninggalkan tanda tanya besar. Kok dia bisa tahu kalau hari ini banyak sekali cowok sesekolahan mengejarku?
“Orang yang tau future gitu kayaknya ada istilahnya deh?” tanyaku.

“Dukun?” Dasar, wajah boleh cantik, tapi otak Sisi tetap susah diajak serius. Hingga akhirnya keluar beoan dari mulut Sisi. “Indigo kan?”

***

Aku browsing Internet dan menemukan banyak kejutan.
Indigo. Rata-rata, anak indigo emang beda sama anak-anak sebayanya. Anak indigo berjiwa dewasa serta mampu menghargai perbedaan. Indigo bukan penyakit dalam daftar WHO. Sejenak aku teringat, waktu itu Kaemon betulin jaketku agar terhindar dari hidung belang. Sangat dewasa, kan?

Kupatut lagi monitor komputer. Anak indigo punya banyak sifat. Pertama, tingkat kecerdasan superior dengan IQ tinggi. Kedua, anak indigo dapat ngerjakan sesuatu tanpa diajarkan. Ketiga, bisa nangkep perasaan orang lain. Keempat, tahu sesuatu yang tidak dapat dipersepsi oleh pascaindera di masa kini, masa lampau, dan masa depan. Persis Kaemon. Dia tahu masa depanku!

Yang bikin bulu kudukku berdiri ialah poin kelima: mampu mengetahui keberadaan makhluk halus. Jangan-jangan, benar kata-kata Kaemon kalau di stand bakso tersebut ada penunggunya? Bahkan, menurut info di buku, anak indigo cenderung memiliki ‘teman-teman tak terlihat’. Hiii!

Ya Tuhan, aku berteman dengan cowok abnormal! Gimana kalo dengan kemampuannya dia bisa mengetahui seluk-beluk hidupku bahkan yang paling rahasia sekalipun? Begitu kubicarakan masalah ini ke Sisi, dia ngakak. “Masa cowok itu indigo?” celetuk Sisi tak percaya.

Daripada jabarin sepanjang Sungai Nil, mending aku kasih langsung buktinya. “Ayo ikut!”

***

Kafe tenda, khususnya di stand bakso tampak ramai. Aku ajak Sisi ke tempat ini untuk menemui Kaemon, tapi hasilnya nihil. Sisi marah dan bilang aku tukang bohong. Tapi suer, setiap kali aku kesini, Kaemon mesti muncul. “Pak,” kuputuskan tanya pada pemilik stand yang sedang repot di balik gerobak. “Laki-laki yang biasanya ngobrol sama saya di pojokan itu, tinggi, terus rambutnya cepak, udah datang?”

“Bukannya Non biasa duduk sendirian?”
“Bapak nggak liat? Yang tempo hari duduk sama saya, sampai saya ngobrol cekakakan!”
“Enggak, malah saya heran, kok Non sering bicara sendirian? Seolah-olah Non lagi ngobrol sama orang, tapi bener, nggak ada siapa-siapa kok Non,” jelas tukang bakso itu.
“Bapak jujur?” Sisi nimbrung.

“Suer. Sampai diliatin orang-orang lho! Kalau nggak percaya, tanya deh ke pengunjung lain.”
Mampus. Apa-apaan ini? Lalu dengan siapa aku berbicara? Siapa Kaemon? Aku mulai mengingat ciri-ciri anak indigo yang pernah kulihatkan di Internet: cenderung memiliki ‘teman-teman tak terlihat’. It’s me! Dapat ngerjain sesuatu tanpa diajari, liat makhluk halus, kecerdasan superior. Itu aku kan?

Tiba-tiba ulangan trigonometri dapat 100, bisa ngoceh tentang hukum pidana bareng Tante Nia dan sekarang punya teman tak terlihat!? Jangan-jangan jatuhnya botol kecap karena telekinetikku, lagi!

J-jadi sebetulnya aku yang… Di tengah rintik hujan, aku berjalan tanpa arah. Tak kupedulikan teriakan Sisi yang memanggilku.



Oleh : Ayo_shiari

Kapan Pelajaran Fisika Dimulai?

Sebelumnya, aku belum pernah bertemu dengan pria seperti Aldo. Dia pintar, baik, tampan, dan yang terpenting, kami sangat akrab, bahkan semua teman di sekolah selalu bertanya padaku apakah Aldo itu pacarku ? Mereka bilang aku sangat beruntung.
Walaupun aku selalu menggelengkan kepala ketika mereka bertanya, tapi sebenarnya saat itu hatiku berteriak “ Ya, benar, Aldo adalah pacarku, aku sangat suka padanya. Dia adalah milikku “ Kurasa dia benar – benar adalah Mr. Right yang selama ini kutunggu – tunggu.

“Hei, apakah kau yang bernama Helen ?“ Tanya seorang wanita cantik yang tiba – tiba berada di depanku. Suara halus wanita itu telah membuyarkan semua lamunan indahku tentang Aldo barusan.

Wanita itu sangat cantik, bahkan aku yang selalu menganggap diriku paling cantik tidak bisa lagi berkata apa – apa di depannya. Dia benar – benar cantik.

“Betul, anda ini siapa ? “ tanyaku.
“Kalau begitu, kau ini pasti sedang dekat dengan pria bernama Aldo, kan?“

Bagaimana dia bisa tahu namaku ? Juga, bagaimana dia bisa tahu aku dekat dengan Aldo ? Ada lagi, bagaimana dia bisa tahu sekolahku ? Dan bagaimana dia bisa tahu kalau sekarang aku sedang berada di sekolah ?

“Dari mana kau tahu ? “
“Aku tidak ingin kau mengikuti jejakku. Lebih baik kau segera meninggalkan Aldo, dia itu playboy. Dulu dia juga sangat baik padaku, seperti denganmu sekarang. Teman – temanku selalu mengatakan kalau kami adalah pasangan serasi. Dulu, kami bagaikan Romeo and Juliet. Tapi hal itu tak berlangsung lama, tak lama kemudian, aku melihatnya menggandeng wanita lain sambil tertawa – tawa gembira, aku langsung menghampirinya, ingin meminta penjelasan darinya, aku bertanya padanya, mengapa dia menggandeng wanita itu seperti menggandengku dulu ? Apa hubungannya dengan wanita itu ? Mengapa dia menghianatiku ? Tapi apa kau tahu jawabannya ? Dengan santainya dia bertanya padaku, “
Nona, apa aku mengenalmu ? “. Bahkan dia berpura – pura tidak mengenalku di depan wanita itu, saat itu aku ingin sekali membencinya, tapi aku tak bisa, aku terlalu menyukainya, yang kurasakan bukanlah kekesalan, tapi malah kesedihan, aku sangat sedih, perlu waktu lama untuk bisa melupakan peristiwa itu, makanya aku tidak mau kau mengalami hal yang sama denganku “ jelas wanita cantik itu.

“ Atas dasar apa aku harus mempercayai kata – katamu ? “

“ Kau harus percaya padaku, HARUS … … … “

***

“ Halo, Helen ! “ sapa Nia, teman sekamarku.

“ Halo juga “ jawabku.

“ Helen, apa hubunganmu dengan murid baru yang cantik itu sangat dekat ? “ tanya Nia.

“ Sebenarnya sih tidak, tapi sudah tiga hari ini dia terus mendatangiku dan mengatakan hal – hal buruk tentang Aldo. Dia ingin aku menjauhi Aldo. Kurasa sekarang aku jadi terpaksa akrab dengannya, bahkan mungkin aku tahu riwayat hidupnya, kapan dan dimana dia lahir, apa warna kesukaannya, apa makanan kesukaannya, siapa cinta pertamanya, kebisaaan – kebisaaan buruknya, bahkan rahasia – rahasia kecilnya, seperti pernah tidak mandi selama sebulan, tidak gosok gigi selama setahun dan sebagainya. Bahkan kalau dia tidak menjelek – jelekan Aldo, mungkin aku akan menjadi sahabatnya “ jelasku.

“ Benarkah ? Lalu apakah kau tahu kalau dia itu orang gila ? “

“ Apa ?? Orang gila ? Apa aku tidak salah dengar ? “

“ Benar, aku tidak bohong. Kelihatannya saja ia masih seumur dengan kita, karena wajahnya babyface, tapi sebenarnya ia lebih tua tiga tahun dari kita. Sebenarnya, dia bisa dibilang teman akrab kakakku, dulu kakakku sangat dekat dengannya, jadi semua yang dialaminya, kakakku tahu. Katanya dulu orangtuanya ngotot kalau anaknya itu tidak gila. Lagipula, orangtua mana yang mau anaknya dibilang gi.la ? Tapi karena ia suka mengancam jiwa teman – temannya dengan menodongkan pisau ke semua orang, maka akhirnya orangtuanya baru mau mengakui kalau anaknya itu memang bertindak tidak wajar, nah barulah ia diasingkan dari sekolah, ia dikirim ke luar negri untuk berobat. Lalu, bulan berganti bulan, waktu berganti waktu, ia pun sudah mulai sembuh, maka ia dikirim kembali ke sini “ jelas Nia.

“ Nia, kau jangan membohongiku, aku kan jadi takut. Orang gi.la kan bisa melakukan apa saja. Nia, aku takut, untung kau mengatakannya sekarang, kalau tidak mungkin aku sudah bersahabat dengan orang gila “ ucapku ngeri.

“ Makanya, kau jangan terlalu percaya pada orang lain “

“ Kalau dipikir – pikir, pantas saja ia mengatakan hal – hal buruk tentang Aldo, dari pertama aku sudah curiga, eh bukan – bukan, dari pertama aku sudah tahu kalau itu bohong. Mana mungkin pria sebaik Aldo playboy ? Walaupun aku tidak pernah bertanya langsung kebenarannya kepada Aldo, tapi aku percaya, Aldo pasti bukan orang seperti itu. Ternyata benar, wanita itu gi.la. Kasihan masih muda sudah gila “

Aku dan Nia pun tertawa terbahak – bahak.

“ Tapi, bagaimana, ya perasaan menjadi orang gila ? “ tanyaku serius.

Nia pun ikut serius. Kami berpikir sejenak.

“ Ah, sudah, sudah, jangan dipikirkan lagi ! “ ucapku takut.

“ Nia, ayo minum obat !! “ panggil seorang suster.

“ Ah, dia datang lagi ! Helen, aku pergi dulu, ya ! “ ucap Nia sambil beranjak pergi.

Aku tertawa senang, karena ternyata isu jelek tentang Aldo itu tidak benar, berarti ia bisa kembali menjadi Mr. Right – ku.
Aku memutuskan untuk melihat Aldo, sudah tiga hari ini aku tidak bertemu dengannya, karena wanita itu selalu mendatangiku dan tidak memberiku kesempatan untuk bertemu Aldo. Untung hari ini wanita gila itu tidak datang lagi mencariku.
Aku pun pergi ke kelas Aldo. Saat aku sedang berjalan menuju kelas Aldo, aku mendengar suara teriakan yang sangat keras yang berasal dari kelas Aldo, dan seingatku itu suara Aldo.
Saat aku masuk, aku melihat kedua tangan Aldo sedang dipegang oleh dua orang guru. Kedua guru itu berusaha mengikat Aldo dengan tali, sedangkan murid – murid yang lain hanya bisa melihatnya dari samping. Aldo terus berteriak dan memberontak.

“ Lepaskan !!! Jangan !!! “ ucap Aldo sambil menendang – nendangkan kakinya ke arah pak guru, lalu kembali mengulang kata – kata yang sama berkali – kali.

Aku sangat bingung, sebenarnya apa yang terjadi ? Mengapa Aldo sampai harus diikat ? Memangnya apa yang sudah dilakukannya ? Mengapa Aldo yang kulihat sekarang tidak seperti Aldo yang kukenal, mengapa Aldo bisa seperti ini ? Kemana perginya Aldo yang ramah, sopan, murah senyum dan baik itu ? Kemana ? Mengapa yang kulihat sekarang hanyalah seekor kingkong yang meronta – ronta minta dilepaskan ? Mengapa begitu ? Mengapa ?
Tiba – tiba seseorang menepuk pundakku, aku tersentak kaget. Aku segera berbalik, ternyata Nia.

“ Nia, bikin kaget saja “ ucapku sambil mengurut – urut dadaku tanda menenangkan jantungku.

“ Helen, ternyata wanita itu benar. Wanita itu dan Aldo benar – benar kenal “ ucap Nia.

“ Apa maksudmu ? “

Nia mendekatiku, lalu berbisik di telingaku “ Ternyata, Aldo juga gila. Mereka pernah berteman, ternyata yang dikatakan wanita itu benar. Lihat, sekarang Aldo sedang kumat, makanya dia diikat “ jelas Nia serius.

“ Apa kau bilang ? “

Seketika itu juga hatiku galau. Aku tidak berani lagi melihat Aldo, aku segera berlari ke kamarku, lalu aku pun menangis.
Aku benar – benar tidak bisa menghadapi kenyataan ini, Aldo gi.la ? Terlintas saja tidak pernah di pikiranku. Kalau Aldo memang gila, mengapa dulu ia begitu baik padaku, mengapa dulu dia sangat normal ? Mengapa dia tidak pernah kumat saat bersamaku, mengapa ia baru kumat sekarang ? Padahal aku kan selalu menghabiskan waktuku sepanjang hari bersamanya.
Sekarang ini aku tidak tahu lagi apa yang sedang kurasakan, sebenarnya aku ini kecewa karena Aldo bukan Mr. Right – ku atau takut karena Aldo itu orang gila ? Atau mungkin aku malu pada teman – teman karena ternyata orang yang begitu dekat denganku, yang selalu digosipkan sebagai pacarku, ternyata …
Aku menangis sepanjang hari, aku terus berpikir dan berpikir. Nia teman baikku hanya bisa menemaniku sambil duduk di sampingku dan berusaha menghiburku.

“ Sudah, Aldo kan bukan satu – satunya pria di dunia ini, kau pasti bisa mendapatkan yang lebih baik daripada Aldo. Percayalah padaku “ hibur Nia.

Saat mendengar kata – katanya, aku pun berpikir. Benar juga, tidak seharusnya aku rapuh hanya karena seorang pria, aku ini kan wanita yang kuat. Aku pun segera mengusap air mataku.

“ Benar, aku tidak selemah itu, aku harus bangkit kembali “ ucapku.

“ Betul, Helen yang kukenal seharusnya memang begini. Lihat tuh, tampangmu sekarang, mata bengkak, pipi bengkak, mulut bengkak, semua bengkak, sangat tidak enak dipandang “

Aku segera bercermin. Ternyata yang dikatakan Nia benar, tampangku jelek sekali saat itu, padahal kan selama ini aku selalu menganggap diriku adalah wanita paling cantik di dunia. Tidak boleh, tidak boleh ada seorang pun yang membuatku menjadi jelek.

“ Nia, aku harus bagaimana ? Apakah wajahku akan terus begini ? “ tanyaku cemas.

“ Tenang, besok juga sudah kembali normal, asal malam ini kau tidur yang cukup dan besok bangun dengan semangat yang baru “ kata Nia sambil tersenyum.

Aku pun menuruti kata – katanya. Aku segera tidur dengan nyenyak, dan keesokkan harinya bangun dengan semangat baru.
Aku membereskan buku pelajaranku, memeriksa apakah pelajaran yang kubawa sesuai dengan jadwal, setelah itu aku pun berangkat ke sekolah.
Pagi ini aku tidak melihat Nia, mungkin ia sudah berangkat duluan, jadi aku pun berangkat sendiri. Aku berlari dengan semangat menuju kelasku.

“ Helen, jangan lari – lari, nanti jatuh “ ucap suster yang tiba – tiba ada didepanku.

“ Aku kan mau pergi ke sekolah dengan semangat baru “ jawabku.

“ Iya, tapi jangan lari – lari “ jawab suster.

“ Suster, pagi ini aku tidak melihat Nia, kemana dia ? “ tanyaku.

“ Oh, dokter bilang dia sudah sembuh, jadi dia boleh pulang “

“ Pak guru bilang dia sudah sembuh ? Ah, tidak bisa, tidak bisa, aku harus bicara dengan Nia. Ada hal penting yang ingin kutanyakan dengannya “

Aku segera berlari keluar gerbang sekolah, aku mencari Nia sambil berteriak “ Nia, kau dimana ? Ada yang ingin kutanyakan “
Tapi aku melihat ke sekelilingku, Nia tidak ada.

“ Nia tidak ada, dia sudah pulang ke rumahnya “ ucap suster yang masih membawa obat sambil berlari mengejarku ke luar.

Aku menatap papan nama sekolahku yang besar. Aku bingung kenapa Nia mau pergi dari sekolah ini, padahal sekolahku ini kan sangat terkenal, semua orang pasti tahu nama sekolahku. Namanya saja begitu keren, kalau dieja R – U – M – A – H – S – A – K – I – T – J – I – W – A – G – R – O – G – O – L, lengkapnya Rumah Sakit Jiwa Grogol. Wah, kerennya ! Benar – benar nama yang unik. Aku bisa tebak, pasti yang menamai sekolahku ini adalah orang yang kreatif, karena nama yang diberikannya sangat berseni. Sekolah yang benar – benar kubanggakan.
Nia sudah pergi, tapi tidak apa – apa, aku akan pergi ke sekolah dengan semangat baru. Aku kembali ke dalam gedung sekolahku. Suster pun mengikutiku.

“ Suster, kapan pelajaran Fisika dimulai ? Hi… hi… hi… “ tanyaku sambil tertawa.

“ Setelah kamu minum obat, ya ? “ jawab suster.

“ Iya, suster. Hi… hi… hi… “


Oleh : Unknown...

Saya Mau Kurus


Ia memandang bayangan dirinya di cermin besar di kamarnya. Mukanya murung. Bibirnya merengut. Tangannya berkacak pinggang. Pertanda ia tak menyukai apa yang dilihatnya.
“Ah!!! Sebel!! Kenapa sih masih segini-segini aja??”
Suara nyaring terlontar dari bibirnya yang sedari tadi mecucu bak ikan cucut. Diperhatikannya lagi sosoknya yang terpampang jelas di hadapannya. Pipi itu. Lengan itu. Pinggang itu. Perut itu. Pinggul itu. Pantat itu. Paha itu. Betis itu. Kesatuan itu yang membuat matanya bergerak-gerak tak nyaman. Ia bukan lagi tak menyukai apa yang sedang dilihatnya. Ia membencinya.
“Bohongan nih iklannya! Apaan yang seminggu bisa turun 4 kilo???” Serunya kesal sambil menendang kacanya. Setengah mati ia ingin kurus, sampai-sampai merogoh kocek yang tak sedikit, tapi hanya hasil hampa yang didapatnya. Ia menghempaskan diri ke kasur empuk di sebelahnya. Menatap langit-langit dengan hati kecewa. Kenapa, kenapa, dan kenapa, kok rasanya susah sekali untuk jadi kurus? Sudah berbagai macam metode ia jalankan. Sudah berbagai macam obat ia jajal. Sudah berbagai fitness center ia masuki. Namun tak satupun menampakkan hasil yang sesuai dengan keinginannya.
Targetnya tidak muluk-muluk kok. Cukup turun 10 kilo lagi. Benar, deh, ia akan puas setelah mencapai itu. Ia tak butuh payudara sebesar Pamela Anderson. Tak butuh kaki sejenjang Gisele Bundchen. Tak butuh bokong sekencang Jennifer Lopez ataupun Beyonce. Tak butuh lengan sekekar Madonna. Ia hanya mau kurus! Tapi nyatanya, menjadi kurus malah lebih susah daripada mempunyai payudara sebesar Pamela Anderson, kaki sejenjang Gisele Bundchen, bokong sekencang J-Lo ataupun Beyonce, dan lengan sekekar Madonna.
Pipi itu. Lengan itu. Pinggang itu. Perut itu. Pinggul itu. Pantat itu. Paha itu. Betis itu. Ia membenci semuanya.
***
Hari demi hari berlalu. Tahu-tahu saja ia sudah berada di penghujung minggu. Di suatu hari yang dinamakan “Sabtu”. Hari di akhir pekan yang merupakan aniaya baginya, seperti orang yang dirajam batu. Karena di setiap hari “Sabtu”, ia harus bertemu dengan teman-temannya, saling bertukar kabar dan gosip, dan tentu saja, pembahasan tentang berat badannya.
“Mau diturunin sampai seberapa lagi, Ned? Elo udah oke, tau!”
“Iya, Ned, segini udah cukup kali, nggak usah aneh-aneh deh!”
Huh! Apanya yang sudah oke? Apanya yang segini sudah cukup? Jelas teman-temannya tak mendukungnya untuk tampil lebih baik lagi. Jelas teman-temannya tak mau disaingi! Kalau ia turun 10 kilo lagi, ia akan jadi jauh lebih cantik, jauh lebih keren. Teman-temannya tahu itu. Mereka sepenuhnya sadar, dan sepenuhnya mencoba mempengaruhinya untuk menyerah. Teman-teman macam apa itu?!
Tapi, lagi-lagi ia hanya bisa tersenyum lemah. Sudah bosan ia untuk membela dirinya dan memberikan alasan setiap kali teman-temannya angkat bicara.
“Yah, sedikit lagi kan nggak ada salahnya.”
Begitu jawabnya setiap kali. Dan begitu pula ia menuai protes lebih lagi dari mereka.
Sebenarnya ia juga tak mau beda sendiri seperti ini. Ia mau menjadi sama seperti yang lainnya. Sama seperti Metha yang punya senyum manis. Sama seperti Olline yang punya badan langsing bak Jessica Alba. Sama seperti Niken yang tinggi semampai dan punya rambut hitam panjang bak iklan Sunsilk. Sama seperti Kenar yang berkulit putih mulus. Sedangkan dirinya? Sudah hitam, pendek, gendut, jerawatan, rambut seperti sapu ijuk pula!
Ia benar-benar tak habis pikir, kenapa ia bisa seperti ini. Padahal ia sudah rajin merawat diri. Rajin luluran, rajin creambath, rajin fitness, rajin cuci muka, dan rajin-rajin lainnya. Tapi hasilnya tetap saja tak sama seperti Metha yang punya senyum manis. Tak sama seperti Olline yang punya badan langsing. Tak sama seperti Niken yang punya rambut hitam panjang bak iklan Sunsilk. Tak sama seperti Kenar yang berkulit putih mulus. Tak sama dengan semuanya yang ia inginkan. Ah! Ia benar-benar frustrasi.
Ia tahu, semuanya bersumber dari badannya. Itulah yang membuatnya gagal dalam segalanya. Gagal dalam membangun hubungan. Gagal dalam pedekate. Gagal dalam wawancara kerja. Gagal semua! Coba kalau ia jauh lebih kurus, ia akan jadi lebih menarik. Dan tentu saja, ia akan jauh lebih berhasil dari keadaan dirinya yang sekarang. Berhasil, tahu nggak?! Bukan jadi pecundang!
Ia tak tahan lagi. Ia tak bisa menunda-nunda lagi. IA HARUS KURUS!!!
***
Kepalanya berputar. Mulutnya kering. Tenggorokannya serasa ditusuki seribu jarum. Tangannya berkeringat dan gemetar tak beraturan. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menghalau dingin yang menyelimuti tubuhnya yang sedang terbuntal selimut. Tapi usahanya sia-sia. Hawa dingin itu malah semakin merasuki pori-pori kulitnya. Membuat tubuh mungilnya semakin meringkuk dalam-dalam di hamparan empuk kasur di atas ranjang miliknya. Tenaganya seperti habis terkuras. Bagaimana tidak? Sudah dua hari ini ia menolak untuk makan. Hanya air putih yang masih setia ditenggaknya.
Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
“Neng Nadya, buka pintunya, neng! Teman-teman neng ada di sini.” Suara si bibi menyusup di celah-celah pintu dan menggapai telinganya. Membuatnya melirik sekilas ke pintu yang ada di depannya. Ia melengos, kembali pada dekapan hangat selimut dan bantal-bantal di sekelilingnya.
DOK! DOK! DOK!
Tiba-tiba saja pintu digedor secara brutal. Iapun terlonjak kaget. Dengan tatapan linglung, ia menatap pintu kamarnya lekat-lekat.
“NEDI!! Jangan gila, deh! Buka pintunya!” Olline berteriak dari balik pintu itu.
“Nedi! Jangan gitu dong ke diri elo sendiri! Kalo bonyok lo tau, mereka bisa sedih!”
Mereka sedih?
Sejenak ia termenung, menatap kosong ubin warna peach di depannya. Benar juga. Apa kata ayahnya jika ia menemukan anak semata wayangnya mati kelaparan di rumah sendiri? Apa kata ibunya jika ia melihat keadaan putri tersayangnya yang seperti ini? Mereka sudah pasti tak akan suka. Mereka sudah pasti akan bersedih karena investasi masa depan keluarganya ini merusak diri sendiri. Tapi, tapi, mereka tak akan tahu, kok! Kan mereka selalu berada di luar negeri sejak ia masih kecil. Saat mereka kembali, ia pasti sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Dirinya yang mereka kenal. Ia tak ingin membuat kedua orangtuanya bersedih. Ia menyayangi mereka berdua, walaupun hanya sebatas ucapan di mulut. Namun saat ini, keinginannya untuk jadi kurus dan menarik lebih besar dari keinginannya untuk menyenangkan hati kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya yang selalu mengatur hidupnya bak robot berjalan yang sudah diprogram.
Ia beranjak dari ranjangnya, tapi bukan untuk membuka pintu yang sedari tadi menahan getaran kekuatiran orang-orang yang ada di baliknya. Ia menuju ke sudut kamar. Menuju ke tempat dimana sebuah cermin besar berada. Sudah seminggu ini ia menghindar dari benda itu. Benda yang merefleksikan bukan hanya keadaan fisiknya, tapi juga keadaan jiwanya. Entah kenapa, saat ini ia merasa ia harus melihat dirinya sendiri di benda itu. Ia harus melihat hasil dari perjuangannya selama ini.
“NEDI!! Plis dong, buka! Kalo begini terus, gue telpon psikiater!” Ancam temannya dengan nada setengah putus asa.
Psikiater? Ia tak butuh itu. Yang ia butuhkan hanyalah cerminan dirinya yang menjadi kurus. Ia yakin, ia akan kembali normal sesudahnya. Kembali normal dalam hidupnya yang serba tak normal.
Teman-temannya seringkali berkata ia sudah tak normal dalam melihat badannya. Tak jarang mereka menyarankannya untuk berkonsultasi ke dokter maupun psikiater. Mereka bilang, mereka miris melihat keadaan dirinya yang semakin hari semakin memburuk. Kata mereka, tulang-tulangnya sudah mencuat kemana-mana. Kata mereka, ia sudah tampak tak segar lagi. Kata mereka, mereka kuatir. Tapi, kuatir apanya? Mereka tak tahu apa yang ia rasakan, kok. Mereka tahu apa?!
“Metha, siapin mobil! Bi, tolong panggil Pak Karso sama si Bambang, siap-siap bantu ngedobrak! Kalau dia nggak mau keluar, kita paksa dia keluar!”
Iapun menatap ke arah pintu untuk terakhir kalinya. Kemudian memalingkan wajahnya ke arah cermin yang ada di hadapannya. Ia harus bertindak cepat, sebelum ia dibawa keluar dari ruangan ini. Kepalanya berdentum keras karena suara dobrakan pintu, membuatnya tak bisa melihat dengan jelas sosoknya yang terpantul.
Samar-samar indra penglihatannya kembali bekerja dengan normal. Ia tercekat.
Apa yang dilihatnya sama sekali jauh dari bayangannya selama ini. Ia melihat sosoknya yang gendut, dengan lemak bergelambir, dan kulit berkerut. Padahal pada kenyataannya, sosoknya itu hanyalah tulang dibalut kulit pucat yang berkerut karena kurang gizi. Jelas saja ia kurang gizi, setiap sesudah makan ia selalu saja minum obat pencahar dan diuretika.
Sosoknya benar-benar mengenaskan. Tapi apa yang dilihatnya malah jauh berbeda dari kenyataan yang ada. Ia tetap saja ngotot ingin menjadi lebih kurus lagi. Ia tetap saja ngotot kalau ini semua belumlah cukup.
Iapun terduduk di lantai. Bersimpuh dalam kesedihan, sebelum dobrakan terakhir berhasil menjebol pintu kamarnya. Sebelum tangan-tangan yang kuat merengkuhnya dan membopongnya ke dalam mobil. Sambil memeluk dirinya sendiri, ia menangis dan berkata, “Saya mau kurus!!!”

San Francisco, 28 Januari 2008. 2.10 subuh



Oleh : mimoeT